Harga minyak mentah dunia tergelincir pada perdagangan, Rabu (9/10/2019) untuk memperpanjang kerugian dalam tiga sesi secara beruntun seiring keraguan terhadap pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kondisi itu kembali menghadirkan ketidakpastian terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi global dan permintaan minyak.

Seperti dilansir Reuters hari ini, data industri AS menunjukkan peningkatan yang lebih besar dari yang diharapkan. Sementara harga minyak patokan Internasional yakni Brent mendapatkan tekanan untuk kemudian turun 27 sen atau 0,5% ke posisi USD57,97 per barel pada pukul 01.48 GMT. Sementara harga minyak mentah berjangka AS, West Texas intermediate berada di level USD52,38/barel atau kehilangan 25 sen yang setara 0,5%.

AS dan China dijadwal bakal bertemu di Washington pada hari Kamis dan Jumat dalam, sebagai upaya terbaru dalam menghentikan perang dagang yang sudah berlarut-larut. Dimana apabila terus dibiarkan bakal memperlambat pertumbuhan ekonomi global. Akan tetapi ketegangan antar dua ekonomi besar dunia kembali memanas saat Amerika Serikat memberlakukan pembatasan visa terhadap pejabat China.

China dinilai harus bertanggung jawab terhadap tindakan diskriminasi terhadap minoritas Muslim. Ditambah tensi meningkat setelah seorang pejabat terkemuka Asosiasi bola basket Nasional AS melontarkan komentar yang mendukung aksi protes di Hong Kong. Masalah ini telah membuat para pelaku pasar menghindari risiko, meski pasar minyak global dibayangi defisit pasokan.

Di sisi lain laporan administrasi informasi energi AS (EIA) secara mingguan mengatakan pada hari Selasa produksi minyak mentah AS diperkirakan akan meningkat 1.270.000 barel per hari (BPD) di 2019 untuk rekor 12.260.000 BPD, sedikit di atas perkiraan sebelumnya untuk kebangkitan 1.250.000 BPD. Output pada 2020 diprediksi juga akan meningkat 910.000 BPD menjadi 13.170.000 BPD, menurut EIA, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya dengan kenaikan 990.000 BPD menjadi 13.230.000 BPD.