Ekspor Cina Menurun Picu Pelemahan Minyak Pasca Rapat OPEC+

Ekspor Cina Menurun Picu Pelemahan Minyak Pasca Rapat OPEC+

Category : Comodities

Harga minyak turun pada Senin (09/12) siang di Asia tetapi masih berada di dekat level tertinggi 12 minggu setelah OPEC+ sepakat memangkas produksi lebih besar dari estimasi dan data ekspor Cina dirilis turun.

Minyak Mentah WTI Berjangka melemah sebesar 0,5% ke $58,91 pada pukul 11:20 PM ET (03:20 GMT), sementara Minyak Brent Berjangka Internasional turun 0,3% menjadi $64,19.

Selama pertemuan OPEC+ Jumat, Arab Saudi sepakat menyediakan pemotongan produksi sebanyak 400.000 barel per hari dari mereka sendiri. Itu merupakan pengurangan pasokan yang signifikan di luar yang telah disepakati oleh sesama anggota OPEC+, jika OPEC+ rata-rata bagian pemotongannya sebanyak 1,7 juta barel per hari hingga kuartal pertama tahun 2020. Harga minyak mentah melonjak setelah berita itu, dengan WTI AS melonjak 7,3% dalam seminggu. Pergerakan tersebut adalah kenaikan mingguan terbesar WTI sejak pertengahan Juni. Minyak Brent Inggris Brent melompat sebesar 3,1% dalam sepekan.

Goldman Sachs (NYSE:GS) menaikkan perkiraan untuk Brent pada tahun 2020 menyusul keputusan OPEC+, menambahkan bahwa GS melihat perubahan strategi yang dilakukan OPEC+ untuk mengelola ketidakseimbangan fisik jangka pendek.

Harga minyak turun hari ini setelah data menunjukkan ekspor di Cina menurun selama empat bulan berturut-turut sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa permintaan atas minyak mungkin akan turun.

Data tersebut muncul ketika Beijing dan Washington berusaha mencapai kesepakatan perdagangan “tahap satu” yang sejauh ini masih sulit diselesaikan sebelum batas waktu 15 Desember ketika tarif tambahan akan dikenakan atas produk asal Cina.

AS dan Cina adalah importir minyak terbesar di dunia.

“Data Cina yang rendah tersebut telah membebani pemotongan OPEC+, sekali lagi memperkuat fokus pada permintaan yang ada saat ini,” kata Howie Lee, seorang ekonom bank dalam laporan Bloomberg. “Dengan hanya satu minggu tersisa sebelum tarif baru AS dimulai, muncul sedikit kekhawatiran di pasar.”

Source : investing.com