Fed Tahan Suku Bunga, Emas Menguat Didorong Sentimen Risiko Virus Korona

Fed Tahan Suku Bunga, Emas Menguat Didorong Sentimen Risiko Virus Korona

Category : Comodities

Harga emas bergerak menguat pada Kamis (30/01) pagi pasca Federal Reserve AS mempertahankan suku bunga tidak berubah dan risiko luas dari wabah virus korona terhadap ekonomi Cina memberikan dukungan bagi aset safe haven.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, naik $1,35, atau sebesar 0,1%, di $1,571.15 per ons pada pukul 02:17 PM ET (19:17 GMT) setelah Fed mempertahankan tingkat acuan dana federal fund tidak berubah pada kisaran antara 1,5% dan 1,75% setelah pemangkasan sebelumnya pada tahun 2019.

Emas berjangka COMEX untuk penyerahan Februari di New York ditutup sesi menguat sebelum keputusan Fed pukul 02:00 PM ET. Emas kontrak Februari ditutup naik 60 sen, atau sebesar 0,04%, di $1.570,40.

Baik emas fisik dan emas berjangka telah bergerak turun pada hari Selasa dari puncak yang dicapai awal pekan ini di tengah kekhawatiran kesehatan global yang dipicu oleh krisis virus korona Cina. Pada hari Senin, emas spot mencapai $1.588,62, sementara kontrak emas bulan depan di COMEX mencapai $1.588,10 – tingkat tertinggi tiga minggu untuk keduanya.

Dengan waktu tersisa satu hari lagi sebelum akhir Januari, emas naik nyaris 4% untuk bulan ini sementara pasar berjangka menunjukkan kenaikan lebih dari 3%, tetap mengantongi kenaikan serupa dari bulan Desember.

“Kesenjangan dari fungsi reaksi Fed akan terus menjadi pendorong utama yang mendasari mendukung pasar logam mulia sampai 2020,” kata TD Securities dalam catatan.

The Fed mengatakan bahwa sehubungan dengan perkembangan ekonomi dan keuangan global dan tekanan inflasi yang diredam Fed “akan bersabar dalam menentukan penyesuaian apa di masa depan beriringan dengan kisaran target untuk tingkat dana federal yang mungkin sesuai untuk didukung”.

Tetapi lebih dari narasi The Fed, emas berhasil mendapat sokongan kuat dari bank sentral AS dan juga permintaan dari safe haven terkait dengan krisis virus korona Cina, beberapa analis mengatakan.

Pertumbuhan ekonomi Cina mungkin turun menjadi 5% atau bahkan lebih rendah akibat wabah virus, hal ini mungkin mendorong pengambil kebijakan untuk memperkenalkan langkah-langkah stimulus lebih lanjut, Zhang Ming, ekonom di Akademi Ilmu Sosial Cina, lembaga think tank pemerintah terkenal di Cina, mengatakan.

Sebagai negara dengan ekonomi nomor dua di dunia dan pembeli terbesar dari hampir semua sumber daya alam, setiap kemunduran pada pertumbuhan Cina akan berdampak ke pasar global yang luas dan mengarah ke risiko risiko peralihan aset lebih banyak serta peningkatan minat atas aset pelindung seperti emas, obligasi AS, yen Jepang dan Swiss franc.

Menambah prospek pelemahan ekonomi Cina, British Airway dan Lufthansa (DE:LHAG) mengumumkan Rabu bahwa mereka telah membatalkan semua penerbangan ke Cina, sementara Toyota mengatakan akan menunda produksi kendaraan di negara tersebut.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempertimbangkan lagi apakah akan mengumumkan bahwa wabah virus korona menjadi masalah global. Sejauh ini, jumlah korban tewas di Cina telah menembus 130 orang dan jumlah kasus yang dilaporkan meningkat sekitar 50% sehari.

Source : investing.com