Tinjauan Mingguan Kalender Sektor Energi & Logam Mulia

Tinjauan Mingguan Kalender Sektor Energi & Logam Mulia

Category : Comodities

Dua minggu berturut-turut ini minyak berhasil mencatatkan kinerja yang mumpuni, namun lonjakan tersebut hampir tidak mendapat dukungan berarti. Jika ada satu hal yang diharapkan dari virus covid-1, maka itu seperti mengharapkan hal yang tak terduga – dan ini juga berlaku untuk trader dengan semua posisi dan pandangan.

Untuk mengilustrasikan betapa berbedanya pemerintah bereaksi terhadap virus, pemerintahan Trump telah menuntut pembatalan penerbangan dari AS ke Cina, memaksa adanya karantina dan bahkan menolak kembalinya pekerja medis Amerika yang melakukan penerbangan sukarela ke kota-kota di Cina. Pemerintahan Abe di Jepang, sementara itu, menerbangkan pesawat dengan paket bantuan ke Cina.

Pasar memiliki variasi dampaknya sendiri dari krisis ini. Wall Street, khususnya, menginginkan pengurangan infeksi atau stimulus keuangan oleh Cina sebagai alasan untuk mencatatkan rekor tertinggi pada persediaan. Minyak, sementara itu, jatuh ke pasar bearish selama minggu-minggu pertama dimulainya krisis di tengah kekhawatiran perlambatan tajam pada permintaan di Cina, konsumen energi terbesar di dunia dan juga hampir semua komoditas.

Sejak itu, kisah permintaan minyak hampir tidak pernah membaik, yang membuat lonjakan harga dua minggu terakhir ini turut dicurigai – dan ketidakmampuan untuk menekan kenaikan lain pada hari Jumat benar-benar dapat dimengerti.

Satu-satunya dukungan nyata untuk minyak sejak pecahnya virus adalah ancaman pemadaman pasokan – baik dari perselisihan yang terjadi di Libya atau sanksi terbaru pemerintahan Trump yang ditujukan pada kesepakatan antara Rosneft-Venezuela atau upaya putus asa OPEC untuk mengurangi produksi bekerjasama Rusia.

Dan apa saja kisah permintaan nyata yang mungkin terjadi dalam minyak?

Menurut Russel Hardy, kepala rumah perdagangan minyak utama Vitol, pandemi di Cina digabung dengan cuaca musim dingin yang relatif baik dapat mengakibatkan terjadinya defisit permintaan sebanyak 200 juta barel pada akhir kuartal pertama – atau kerugian bersih 2,2 juta barel per hari. Permintaan puncak yang hilang selama kuartal terburuk dari kuartal pertama itu bisa mencapai 4 juta barel per hari, Kepala Vitol tersebut menambahkan.

Hal tersebut sepertinya cocok dengan apa yang dikatakan Badan Energi Internasional (IEA). IEA memperkirakan bahwa permintaan minyak akan turun 435.000 barel per hari dibandingkan kuartal pertama 2019.

Badan yang berbasis di Paris itu juga memangkas proyeksi pertumbuhannya untuk 2020 menjadi 825.000 barel per hari, berkurang hampir sepertiga dari target sebelumnya, dan perkiraan pertumbuhan terendah sejak 2011. Ini adalah perkiraan IEA yang paling bearish untuk minyak sejak harga minyak mentah naik kembali hingga $100 per barel setelah terjadi krisis keuangan, sebelum jatuh kembali ke harga nyaris $25 dalam beberapa tahun terakhir.

Dan apa yang ditawarkan OPEC?

Pemangkasan pasokan sebanyak 600.000 barel per hari jika Rusia setuju untuk bekerja sama – jika tidak, setengahnya, dilaporkan melalui pakta tiga negara antara Riyadh, Uni Emirat Arab dan Kuwait, spekulasi tentang apa yang Menteri Energi Saudi Abdulaziz bin Salman katakan pada akhir pekan adalah “konyol”.

Apa pun masalahnya, minyak kemungkinan akan mengalami volatilitas lebih besar dalam beberapa hari dan minggu mendatang karena Rusia terus menepis permintaan OPEC untuk mempercepat pemotongan di saat Saudi berbicara tentang pasar. Di tengah-tengah ini, blokade minyak Libya kemungkinan akan terus berlanjut, sementara pasar bertanya-tanya apakah Venezuela akan mengeluarkan sebagian dari minyaknya dengan bekerja sama dengan perusahaan Rusia lain untuk mengatasi sanksi terbaru pemerintahan Trump terhadap Caracas.

Dalam kasus emas, tampaknya ada sedikit yang menghentikan “Bullion Express” karena kerumunan safe haven mengambil pandangan yang berbeda dari krisis virus covid-19 ketimbang pengambil risiko di saham-saham dan minyak.

Setelah emas berjangka menembus titik resisten $1.650 pada hari Jumat pasca menyentuh serangkaian tingkat tertinggi tujuh tahun selama seminggu, analis di bank-bank utama Wall Street dan di tempat lain sekarang menyerukan level puncak $1.700 – juga terakhir terlihat pada tahun 2013.

Tinjauan Energi

Harga minyak turun pada Jumat lalu meskipun membukukan kenaikan mingguan di tengah penularan virus terus menguat dan pakta produksi OPEC-Rusia yang telah mendukung pasar selama empat tahun terakhir tampaknya akan segera berakhir.

Patokan minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), turun 50 sen, atau sebesar 1%, menjadi $53,38 per barel. WTI mencapai level tertinggi satu bulan di $54,63 pada sesi sebelumnya, dan mengakhiri pekan naik 2,6%.

Brent, patokan global untuk minyak mentah, turun 81 sen, atau 1,4%, di $58,50 per barel. Brent mencapai titik tertinggi tiga minggu di $59,99 pada hari Kamis dan menyelesaikan minggu naik 2,1%.

Beijing, yang sudah mencatatkan korban jiwa lebih dari 2.000 orang dan lebih 45.000 orang infeksi covid-19, melaporkan 118 kematian baru dan 1.109 kasus infeksi baru pada hari Jumat. Korea Selatan melaporkan 100 infeksi baru, menggandakan kasus yang ada sebelumnya. Di Jepang, lebih dari 80 orang dinyatakan positif terkena virus.

Kegiatan pabrik di Jepang juga mencatat kontraksi terbesar selama tujuh tahun terakhir pada bulan Februari, terlukai oleh dampak dari wabah virus.

Hingga Jumat, harga minyak telah naik tanpa istirahat selama lebih dari seminggu, tetapi reli sekarang terancam oleh prospek kejatuhan yang timbul antara OPEC yang dipimpin Saudi dan Moskow, yang mewakili kepentingan negara Rusia dan produsen minyak independen.

Kedua belah pihak telah bekerja sama sejak Desember 2016 dalam upaya untuk menyeimbangkan pasokan minyak global di tengah lonjakan minyak mentah dari produsen minyak serpih AS.

Tetapi pada pertemuan darurat awal Februari silam, Rusia menolak dorongan Saudi untuk menambah pembatasan produksi minyak aliansi sebanyak 600.000 barel per hari

The Wall Street Journal melaporkan Jumat bahwa kerajaan Arab Saudi, Kuwait dan Uni Emirat Arab – yang secara kolektif mewakili lebih dari setengah kapasitas produksi OPEC – telah memutuskan untuk melakukan pemotongan sendiri tanpa Rusia. Aliansi itu mengadakan perundingan pada minggu ini untuk membahas kemungkinan pemangkasan produksi gabungan sebanyak 300.000 barel per hari.

Source : investing.com