Covid-19 Picu Krisis Utang Global, Yen Jepang Berpotensi Naik

Covid-19 Picu Krisis Utang Global, Yen Jepang Berpotensi Naik

Category : Currency

Mata uang JPY/USD Jepang yang anti-risiko telah menguat sementara bursa saham global terus menghadapi tekanan jual yang deras akibat kekhawatiran virus covid-19 menciptakan sentimen resesi. Normalisasi ekonomi global berisiko terhempas oleh COVID-19 sementara kerentanan keuangan di sektor utang perusahaan berada di ambang potensi yang dapat menimbulkan krisis utang di seluruh dunia.

Dalam tinjauan pasar modal dari OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) dilansir DailyFX Jumat (28/02), organisasi internasional ini menekankan laporan tentang pasar obligasi korporasi dan bagaimana sifatnya yang berbahaya secara struktural berisiko terhadap stabilitas keuangan global. Pada akhir 2019, utang perusahaan global mencapai titik tertinggi sepanjang masa di $13,5 triliun. Katalis di balik lonjakan penerbitan obligasi korporasi dikaitkan dengan kondisi utang menguntungkan yang diberikan oleh kebijakan moneter yang ekspansioner.

Baru pada tahun itu, perusahaan-perusahaan non-keuangan meminjam penerbitan obligasi korporasi sebanyak $2,1 triliun, meski kualitas utang keseluruhan dari kewajiban hutang ini telah menurun signifikan. Obligasi yang baru diterbitkan memiliki jangka waktu yang lebih panjang, batas pembayaran yang lebih tinggi dan perjanjian yang lebih lemah. Istilah terakhir mengacu pada kondisi yang harus dipenuhi peminjam untuk mendapatkan dana yang diinginkan.

Akibatnya, baik bank pemberi pinjaman dan para peminjam sekarang lebih terpapar pada perubahan yang merugikan dalam kondisi pasar atau dari guncangan ekonomi – seperti virus covid-19 – yang dapat menghambat kemampuan para peminjam untuk membayar hutang mereka. Apa yang disebut perjanjian pinjaman – yang sekarang juga disekuritaskan menjadi kewajiban pinjaman yang dijamin atau CLO – merupakan pangsa pasar yang tumbuh dari utang perusahaan.

OECD memperingatkan karena sifat genting dari pasar utang ini, penurunan dapat memicu terjadinya goncangan default dan memicu atau memperdalam resesi.

Jika tingkat default melonjak, krisis utang di seluruh dunia dapat terjadi karena pinjaman antar bank membeku. Sama seperti apa yang terlihat dalam kehancuran finansial besar terakhir pada 2008, minat risiko untuk aset yang berorientasi pada pertumbuhan runtuh sementara permintaan untuk aset yang sangat likuid dan anti-risiko seperti Yen Jepang melonjak. Pasar sudah melihat dinamika ini terjadi sekarang.

Source : investing.com