Yen Lanjut Tren Penguatan Disaat Pembuat Kebijakan Gagal Menangani Covid-19

Yen Lanjut Tren Penguatan Disaat Pembuat Kebijakan Gagal Menangani Covid-19

Category : Currency

Yen Jepang lanjut menguat pada Selasa pagi, sementara mata uang lain yang sensitif risiko berfluktuasi karena langkah terkoordinasi bank sentral gagal meredakan keraguan investor terhadap penanganan pandemi covid-19.

Aset berisiko global banyak yang dialihkan selama beberapa hari terakhir, ditengah gejolak yang melanda banyak bursa di tengah kekhawatiran wabah dan tindakan pembendungan yang ketat dapat memicu resesi yang dalam di sejumlah negara ekonomi utama.

Akibatnya, perdagangan di sebagian besar pasar termasuk valuta asing lebih didorong untuk upaya pengurangan kerugian dan posisi lain yang tidak mengikat untuk mengurangi risiko atau menebus kerugian, daripada tawaran baru, kata para pelaku pasar.

“Likuiditas di pasar keuangan telah anjlok,” analis ANZ mengatakan dalam sebuah catatan kepada klien, menambahkan bahwa “tindakan bank sentral global yang dilakukan bersama belum cukup memadai untuk pasar.”

Kecemasan likuiditas telah memukul sejumlah mata uang yang sensitif risiko dengan imbal hasil yang lebih tinggi, seperti dolar Australia, sementara bagi yang memberikan imbal hasil negatif, seperti yen, euro dan franc Swiss, sebagian besar telah dalam posisi aman.

Dolar AS diperdagangkan pada 106,33 yen USD/JPY, bangkit kembali dari terendah Senin di level 105,15, Euro EUR/USD di level $1,1167, Dolar Australia di level $0,6102 atau turun 0,3%, Dolar Kanada turun ke level terendah empat tahun C$1,4020 per dolar AS.

Pound Inggris juga di bawah tekanan, dibayangi oleh kekhawatiran tidak hanya akan keluarnya Inggris dari Uni Eropa tetapi juga defisit neraca berjalan yang cukup besar, Sterling diperdagangkan pada $1,2265 atau turun 0,04%.

Anjloknya di Wall Street pada hari Senin menggarisbawahi kekhawatiran krisis covid-19 di Barat serta langkah darurat Federal Reserve memangkas suku bunga pada hari Minggu.

Tetapi investor menilai tindakan yang diambil Fed, yang diikuti bank sentral Jepang, Australia, Selandia Baru dan negara lain, dianggap tidak memadai mengingat penyebaran patogen di level global telah menempatkan banyak negara melakukan penguncian virtual.

Beberapa analis mengatakan langkah tergesa-gesa itu kemungkinan menjadi bumerang karena investor takut akan kemungkinan panik di kalangan pembuat kebijakan.

“Bank-bank sentral menekan pedal gas terlalu dalam. Tetapi mobil macet di rawa covid-19, sehingga tidak akan bergerak maju,” kata Ayako Sera, ahli strategi pasar di Sumitomo Mitsui Trust Bank.

“Sampai wabah berhenti, para investor menilai, sekarang saatnya untuk bersabar,” katanya.

Tidak ada kejelasan tentang hal itu, dengan kasus-kasus global sekarang meningkat menjadi 174.100 dengan 6.700 kematian, mendorong negara-negara menutup perbatasan dan mengambil langkah-langkah yang semakin drastis untuk mencoba mengurangi keparahan wabah.

Para pemimpin G-7 mengatakan berkomitmen melakukan “apa pun yang diperlukan” untuk memerangi pandemi covid-19 dan bekerja sama lebih dekat untuk melindungi kesehatan masyarakat, pekerjaan dan pertumbuhan.

Source : investing.com