Author Archives: fsbali

Euro Cenderung Melemah Dipicu Kekhawatiran Prospek Ekonomi

Category : Currency

Euro mendekati level terendah tiga tahun terhadap dolar AS menjelang survei data Jerman pada Selasa (18/02), yang diperkirakan akan menunjukkan penurunan tajam pada kepercayaan investor dan memicu pesimisme yang berkembang mengenai prospek negara dengan perekonomian terbesar di Eropa tersebut.

Menurut laporan yang dilansir Reuters Selasa (18/02) pagi, pasar keuangan bergerak dalam kisaran ketat setelah hari libur di AS pada Senin, mengubah fokus investor kepada perkembangan berita di Eropa dan juga krisis virus covid-19.

Sterling mengurangi kerugian terhadap dolar dan euro dalam kekhawatiran yang ada mengenai hubungan ekonomi antara Inggris dan Uni Eropa karena kedua belah pihak mengemukakan pandangan yang saling bertentangan tentang bagaimana untuk melanjutkan negosiasi perdagangan.

Di Asia, yuan Cina dan yen Jepang bertahan stabil di mana trader terus meninjau penyebaran wabah virus baik di dalam maupun di luar Cina.

Sentimen euro telah memburuk secara dramatis bulan ini setelah sektor manufaktur lemah dan data produk domestik bruto dari Jerman, negara ekonomi terbesar di Eropa, menunjukkan bahwa kawasan euro lebih rentan terhadap guncangan eksternal.

Euro (EUR/USD) dikutip pada harga $1,0836 di Asia, mendekati level terendah sejak April 2017. Pound (GBP/USD) bertahan stabil di $1,3003 di Asia pada Selasa setelah penurunan 0,3% di sesi sebelumnya. Sterling dikutip di 83,30 pence per euro, mengurangi penurunan 0,4% pada hari Senin.

Sementara yuan luar negeri (CNY/USD) tetap stabil di 6,9882 per dolar dan yen, yang pada awalnya naik dipicu sentimen arus safe haven saat wabah berlangsung bulan lalu, bertahan stabil dalam kisaran sempit di 109,82 per dolar.

Source : investing.com


Harga emas masih terpapar kekhawatiran pada virus corona

Category : Comodities

Harga emas pada siang hari ini masih bergerak di dekat level tertingginya di tengah kekhawatiran atas dampak virus corona yang belum juga reda.

Mengutip Bloomberg pada Senin (17/2) pada pukul 11.50 WIB, harga emas di pasar spot ada di level US$ 1.583,19 per ons troi, setelah menyentuh level tertinggi sejak 3 Februari di $ 1.584,65 pada hari Jumat. 

Sementara harga emas Comex tercatat melemah 0,03% ke level US$ 1.586 per ons troi.

“Emas memegang tetap dekat dari harga tinggi karena ketidakpastian seputar virus corona yang tetap tinggi, sementara dampak ekonomi yang ditimbulkan masih belum jelas,” kata Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets seperti dikutip Reuters.

Korban tewas dari wabah virus corona di daratan China mencapai 1.770 pada hari Minggu, naik 105 kasus dari hari sebelumnya.

Epidemi virus corona juga mendorong Singapura untuk menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2020, sementara jajak pendapat Reuters menunjukkan produsen Jepang tetap pesimis pada Februari.

Saham Asia melorot dari level tertinggi selama tiga minggu karena investor menimbang dampak jangka pendek pada pertumbuhan ekonomi global akibat virus corona. 

Source : kontan.co.id


Minyak Naik Ditengah Tren Penurunan, Kekhawatiran Virus Dorong Penguatan Emas

Category : Comodities

Trader minyak telah mendorong harga minyak mentah naik sebesar 5% dalam sepekan kendati tiap tanda di pasar menunjukkan bahwa permintaan energi akan semakin memburuk sebelum mengalami perbaikan.

Pergerakan positif tersebut merupakan kenaikan pertama selama enam minggu ini sejak tahun 2020 dimulai. Ajaibnya, bahkan situasi nyaris perang pada Januari antara Iran dan AS – dipicu oleh pembunuhan pemerintahan Trump terhadap Jenderal Iran Qassem Soleimani – tidak menghasilkan keuntungan mingguan bagi minyak.

Reli empat hari mayoritas tak diduga itu muncul ketika statistik virus Covid-19 yang diterbitkan dari otoritas Cina berubah dari buruk menjadi lebih baik kemudian berubah lagi menjadi lebih buruk setiap harinya. Sentimen pasar minyak juga tidak berbeda karena Rusia tidak memberikan kepastian pada OPEC – memicu spekulasi “tidak-ya-tidak” mengenai apakah Moskow akan berkontribusi pada pemotongan 600.000 barel per hari baru yang diusulkan oleh kelompok itu.

“Tidak ada keraguan bahwa tatkala Cina terus berjuang mengendalikan virus korona, Cina akan terus mengalami penurunan permintaan minyak mentah yang bisa menjadi lebih signifikan dari hari ke hari,” ungkap Tariq Zahir, anggota pengelola dana Tyche Capital Advisors yang berfokus pada minyak di New York.

“Dan jika virus menyebar lebih jauh ke Eropa dan AS, kita dapat memperkirakan permintaan minyak mentah akan semakin terpukul,” tambah Zahir. “Pertumbuhan di seluruh dunia sudah terkena dampak dan rantai pasokan bisa menjadi lebih terpengaruh. Namun, harga minyak mentah naik secara substansial minggu ini. Apakah ini akan menjadi pemulihan berbentuk V yang tampaknya masih harus dipantau.”

Terlepas dari prospek ke depan yang cukup mendung, ada beberapa sinar harapan yang dapat mendorong ekspektasi minyak naik.

Salah satunya adalah laporan Jumat bahwa kilang minyak di Cina yang lebih kecil dan mandiri – yang dikenal sebagai “teko teh” – kembali membeli minyak mentah di tengah kejatuhan konsumsi energi di Cina.

Di antaranya yaitu perusahaan penyuling independen Cina, Shandong Shouguang Luqing Petrochemical Co. membeli sebanyak tujuh kargo minyak dari Rusia, Angola dan Gabon untuk bulan Maret dan April, sementara Sinochem Hongrun Petrochemical Co. membeli minyak dari Gabon, Bloomberg melaporkan.

Tidak semua orang optimis mengenai berita itu.

“Tatkala tingkat aktivitas minyak mentah terus turun di Cina dengan tingkat perusahaan penyuling mandiri ada di bawah 50%, itu membuat saya bertanya-tanya apakah perusahaan di sana itu hanya mengejar pembelian atau menambah posisi beli,” tandas Scott Shelton, pialang energi berjangka ICAP (LON:NXGN) di Durham, North Carolina.

Juga menopang pasar yakni spekulasi bahwa Rusia pada akhirnya akan menyetujui pemotongan baru OPEC – meskipun pernyataan keraguan awalnya dilontarkan oleh Presiden Vladimir Putin. Pemimpin Kremlin itu tampaknya menunjukkan rasa sensitif yang besar pekan lalu dengan meningkatkan kehati-hatian orang dalam sektor energi di Moskow bahwa pemotongan oleh Rusia hanya akan menguntungkan para perusahaan pengebor minyak di AS yang tidak memiliki hubungan dengan OPEC.

Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, mengatakan dalam catatan bahwa ia menduga “Putin sekali lagi tidak akan menghiraukan pendapat para pejabat bidang energi, dan ataupun menolak menandatangani kesepakatan di saat para menteri bertemu tanggal 5 Maret” pada pertemuan OPEC+ di Wina.

Namun, “kekhawatiran” Putin sebelum rapat OPEC “dapat secara efektif diterapkan pada negosiasi, untuk mengurangi kewajiban pemotongan produksi keseluruhan Rusia”, urai Croft.

Pada faktor yang lebih besar, ada perdebatan tentang apakah permintaan energi global dapat bertahan dari situasi epidemi virus terburuk yang telah menewaskan hampir 1.700 orang di Cina saja dan menginfeksi sekitar 68.000 orang pada perekonomian terbesar kedua di dunia itu.

Di luar Cina, ada lebih dari 500 kasus pada hampir 30 negara, dan empat orang dilaporkan telah meninggal – masing-masing di Prancis, Hong Kong, Filipina, dan Jepang.

Ketakutan bahwa penurunan minyak mungkin terlalu dilebihkan muncul ketika Badan Energi Internasional (IEA), Badan Informasi Energi (EIA) AS dan OPEC semuanya menerbitkan perkiraan yang berbeda tentang dampak virus terhadap minyak.

Bagi para buyer minyak, perbedaan angka dari ketiga badan itu menunjukkan bahwa tak satu pun dari ketiganya memiliki pembacaan pasti mengenai dampak virus – sebuah situasi yang harus dipandang secara positif, seperti halnya narasi dalam buku Reality by Deception ditulis oleh Bobby Casto.

Bloomberg, dalam sebuah analisis, berkomentar masam bahwa OPEC akan cenderung untuk mengecilkan dampak virus Covid-19 pada minyak, mengingat rasa putus asa untuk mendorong kembali harga minyak mentah, sementara IEA, yang mewakili pandangan konsumen, secara alami akan mengatakan ada terlalu banyak minyak di pasar.

“Seseorang akan melakukan penyesuaian,” kata Bloomberg.

Menurut OPEC, permintaan minyak kuartal pertama di Cina akan turun hanya 160.000 barel per hari dari perkiraan bulan lalu dan konsumsi masih akan naik 140.000 barel per hari selama periode yang sama tahun 2019.

IEA yang berbasis di Paris yakin bahwa permintaan minyak global untuk kuartal pertama akan menjadi 1,3 juta barel per hari dan ini lebih rendah dari yang diperkirakan sebulan lalu.

Sementara itu, EIA yang berbasis di Washington memperkirakan bahwa total pasokan energi global rata-rata akan sebanyak 101,97 juta barel per hari pada tahun 2020, sementara rata-rata permintaan mencapai 101,74 juta barel per hari – ada kesenjangan sebanyak 230.000 barel per hari. Bulan lalu, perkiraan total pasokan rata-rata EIA akan mencapai 102,37 juta barel per hari dibandingkan permintaan rata-rata 102,11 juta barel per hari – ada ruang perbedaan 260.000 barel per hari.

Emas juga mencatat kenaikan mingguan lantaran didorong virus covid-19 di Cina yang membantu logam kuning ini membukukan kenaikan selama 7 minggu dan kembali ke tren level bullish di $1.580.

Tetapi menebak arah jangka pendek pasar tetap sulit bagi investor akibat ketidakpastian epidemi, dan alternatif safe haven yang ditawarkan oleh dolar, ujar analis.

Tinjauan Energi

Gabungan dari pembelian minyak “perusahaan kecil dan mandiri di cina”, spekulasi bahwa Rusia akan tunduk kepada OPEC dan optimisme bahwa permintaan minyak global tidak akan sepenuhnya menyerah pada wabah virus akan memberikan minyak mentah kenaikan mingguan pertama selama enam pekan.

Brent, patokan global minyak mentah, ada di $57,32 per barel, naik 98 sen, atau sebesar 1,7%. Untuk sepekan, minyak ini naik 5,2%.

Minyak West Texas Intermediate, patokan minyak mentah di AS, bertahan di $52,05, naik 63 sen, atau 1,2%. Minyak ini telah naik 3,4% dalam sepekan.

Untuk tahun ini, Brent masih turun 13% sementara WTI menunjukkan penurunan 14%.

Kalender Energi Ke Depan

Selasa, 18 Februari

Data perkiraan inventaris minyak Genscape di Cushing

Rabu, 19 Februari

Laporan mingguan pasokan minyak American Petroleum Institute.

Kamis, 20 Februari

Laporan mingguan EIA tentang stok minyak

Laporan mingguan gas alam dari EIA

Jumat, 21 Februari

Jumlah mingguan pengeboran Baker Hughes.

Tinjauan Logam Mulia

Emas berjangka COMEX untuk penyerahan April di New York menetapkan perdagangan Jumat naik $7,60, atau hampir 1%, di $1586,40 per ons. Harga juga naik hampir 1% dalam seminggu.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas berakhir turun 21 sen, atau 0,01%, pada $1,584,11. Untuk sepekan, emas ini naik 0,9%.

“Indeks dolar AS dan berita utama seputar politik di AS, perubahan suku bunga dan pasar saham telah menambah dorongan pada berita virus, yang mengakibatkan pergerakan emas seminggu ini,” kata George Gero, analis logam mulia RBC Wealth Management di New York.

“Tapi bukan hanya emas yang berfungsi baik sebagai lindung nilai untuk Covid-19 kendati dolar juga menguat dolar.”

Indeks dolar AS berada di 99, atau naik sebesar 0,4% pada seminggu ini.

Source : investing.com


Harga minyak bergerak terbatas usai penguatan mingguan terbesar di pekan lalu

Category : Comodities

Harga minyak bergerak terbatas menyusul kenaikan mingguan terbesarnya di tahun ini, setelah China, Hong Kong dan Singapura berjanji memberikan stimulus untuk membuat ekonomi di kawasan pulih dari dampak virus corona.

Mengutip Bloomberg, Senin (17/2), pukul 08.00 WIB, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Maret 2020 di Nymex naik 16 sen menjadi US$ 52,21 per barel. Kenaikan ini melanjutkan penguatan pada Jumat (14/2) yang mencapai 1,2%.

Sementara untuk harga minyak jenis Brent kontrak pengiriman April 2020 di ICE Futures tergelincir 3 sen menjadi US$ 57,29 per barel. Namun, pada akhir pekan lalu, harga minyak jenis ini telah naik 93 sen menjadi US$ 57,32 per barel.

Pekan lalu, minyak berhasil menguat karena kekhawatiran atas dampak pada permintaan global akibat virus corona mulai mereda.

Terlebih China sudah menyebutkan akan memberikan stimulus meski ada kesenjangan fiskal yang melebar, termasuk pajak perusahaan yang lebih rendah.

Namun, minyak juga masih dihantui penyebaran virus corona khususnya di Provinsi Hubei, pusat penyebaran yang melaporkan jumlah kasus baru mencapai 1.933, lebih tinggi dari hari sebelumnya.

Source : kontan.co.id


Euro Stabil Ditengah Perlambatan Ekonomi, Yen Datar Kendati PDB Lemah

Category : Currency

Euro bergerak datar cenderung melemah pada Senin (17/02) pagi imbas kekhawatiran yang memuncak terkait melemahnya pertumbuhan ekonomi di Eropa tatkala pasar keuangan dan pengambil kebijakan resah mengenai ancaman baru penyebaran virus covid-19 di Cina terhadap perekonomian global.

Euro, (EUR/USD) yang mencapai titik terendah 33 bulan di $1,0817 pada Jumat silam, berada di $1,08385 pada awal perdagangan Asia menurut laporan yang dilansir Reuters Senin (17/02) pagi dan euro bergerak mendatar sejauh ini tetapi turun 2,3% sejak awal bulan. US Dollar Index ada di kisaran 99,131, mendekati tingkat tertinggi 4,5 bulan pada hari Jumat di 99,241.

Ekonomi Jerman mengalami stagnasi pada kuartal keempat lantaran konsumsi sektor swasta dan pengeluaran negara yang lebih lemah, data menunjukkan pada Jumat lalu, memperbaharui kekhawatiran resesi kala Partai Konservatif Kanselir Angela Merkel disibukkan dengan pencarian pemimpin baru.

Ekonomi terbesar Eropa itu membukukan pertumbuhan nol dari kuartal sebelumnya sementara data terpisah menunjukkan produk domestik bruto kawasan euro tumbuh 0,1% kuartal ke kuartal pada kuartal keempat, sejalan dengan perkiraan tetapi merupakan tingkat yang terlemah sejak 2014.

Ekonomi Jepang juga berada di bawah tekanan yang meningkat, di mana angka PDB dirilis pada hari Senin ini jauh di bawah perkiraan ekonom, memukul saham-saham Tokyo meskipun reaksi di pasar mata uang mendatar.

Ekonomi terbesar ketiga di dunia ini menyusut 1,6% selama tiga bulan hingga Desember, penurunan terbesar dalam enam tahun, terkena dampak kenaikan pajak penjualan.Yen berada di di 109,81 yen per dolar, sedikit bergerak dalam kisaran ketat selama lebih dari seminggu.

Source : investing.com


Virus Makin Ganas Yen Kian Kuat, Euro Jatuh Akibat Pertumbuhan Lemah

Category : Currency

Yen Jepang melanjutkan tren penguatan terhadap dolar AS pada Jumat (14/02) di tengah kekhawatiran baru seputar wabah virus covid-19 mendukung permintaan atas mata uang safe haven dan ini turut pula membebani harga aset berisiko.

Menurut laporan yang dilansir Reuters Jumat (14/02) pagi, yuan Cina mengalami kerugian pada perdagangan luar negeri dipicu virus covid-19, yang muncul akhir tahun lalu di Provinsi Hubei Cina, menghantam rem belanja konsumen dan manufaktur negeri tirai bambu ini.

Euro jatuh ke posisi terendah multi tahun terhadap dolar AS dan franc Swiss seiring pandangan investor tumbuh lebih pesimis terhadap prospek ekonomi kawasan Eropa sebelum rilis data produk domestik bruto Jumat ini.

Sebaliknya, pound naik dan mengirim gelombang optimisme ke Asia pada hari Jumat lantaran harapan bahwa perombakan kabinet Inggris akan mengarah pada kebijakan fiskal yang lebih ekspansif untuk mendukung pertumbuhan.

Pejabat di Hubei mengejutkan pasar keuangan pada Kamis dengan mengumumkan peningkatan tajam jumlah infeksi baru dan juga kematian akibat virus covid-19 setelah mengadopsi metode diagnosis baru atas penyakit ini.

Yen (JPY/USD) sedikit menguat di 109,79 per dolar pada Jumat di Asia dan berada di jalur untuk kenaikan pada hari kedua.

Di pasar luar negeri, yuan CNY/USD dikutip di level 6,9910, menyusul penurunan 0,2% pada hari Kamis.

Pejabat Hubei pada hari Jumat melaporkan 4.823 kasus baru dan 116 kematian baru pada 13 Februari, tetapi investor masih terlihat goyah setelah Hubei melaporkan 14.840 kasus baru dan mencatat peningkatan harian dalam jumlah kematian pada hari Kamis setelah menggunakan metode diagnostik baru untuk klasifikasi ulang tumpukan kasus yang ada.

Euro turun 0,1% ke $1,0827, tingkat terendah sejak April 2017 lantaran investor bersiap untuk rilis data PDB Jerman dan kawasan Eropa Jumat ini. Sedangkan EURCHF dikutip di 1,0614 per franc Swiss, mendekati level terendah sejak Agustus 2015. Euro sedikit menurun terhadap pound di 83,06 pence, mendekati titik terlemah sejak Desember.

Sementara pound Inggris sedikit berubah di $1,3046 setelah mendapat dorongan kenaikan sebesar 0,64% pada hari Kamis.

Source : investing.com


Harga Minyak Stabil dan Siap Catatkan Kenaikan Pekan Ini

Category : Comodities

Harga minyak bergerak stabil pada Jumat (14/02) dan akan mencatatkan kenaikan mingguan pertama selama enam minggu dengan asumsi produsen minyak utama bakal menerapkan pengurangan produksi yang lebih besar guna mengimbangi perlambatan permintaan di Cina, negara importir minyak mentah terbesar kedua di dunia.

Minyak mentah berjangka Minyak Brent Berjangka turun 9 sen ke $56,25 per barel pada pukul 02.34 GMT, setelah naik 1% pada sesi sebelumnya menurut laporan yang dilansir Reuters Jumat (14/02) pagi. Brent menguat sebesar 3,3% untuk pekan ini, kenaikan pertama sejak pekan 10 Januari silam.

Minyak berjangka West Texas Intermediate (Minyak Mentah WTI Berjangka) AS turun 1 persen ke $51,41 per barel. Kontrak minyak ini naik 0,5% pada Kamis dan hingga kini telah menguat 2,2% untuk sepekan.

Harga minyak mentah telah jatuh sekitar 20% dari puncak 2020 pada 8 Januari akibat kekhawatiran kelebihan pasokan dikombinasikan dengan kekhawatiran penurunan permintaan bahan bakar yang besar di Cina lantaran langkah karantina negara itu memerangi wabah virus covid-19 telah menghentikan kegiatan ekonomi.

Namun, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan negara produsen mitra lain, yang dikenal sebagai OPEC+, tengah mempertimbangkan pengurangan produksi hingga 2,3 juta barel per hari sebagai tanggapan terhadap penurunan permintaan.

Tetapi analis memperingatkan sejauh ini dampak permintaan hanya terbatas pada China sebagaimana yang diungkap Helima Croft, kepala strategi komoditas di Citadel Magnus.

Source : investing


Harga Emas Balik Melemah Setelah Menguat Dua Hari

Category : Comodities

Harga emas melemah pada Jumat (14/02) setelah mengalami penguatan selama dua hari terakhir, tetapi sentimen penghindaran risiko di pasar membatasi kerugian logam safe haven ini.

Emas Berjangka COMEX untuk penyerahan April di New York sedikit turun 0,1% ke $1.577,95 pada pukul 12:59 AM ET (04:59 GMT). Logam kuning turun dari level puncak lebih dari satu minggu, tetapi masih akan mencatatkan kenaikan mingguan.

“Pasar ekuitas telah mengabaikan sentimen bearish yang ada dan telah mulai bergerak menguat di kala investor kembali meninjau dampak potensi (ekonomi) dari virus,” kata Margaret Yang Yan, analis pasar di CMC Markets.

Bursa saham Asia mayoritas beranjak naik hari ini di mana saham-saham di Cina dan Hong Kong naik sekitar 0,3%.

Namun, kekhawatiran seputar virus tetap hadir kala jumlah kematian akibat di Provinsi Hubei China meningkat 116 orang hari ini dan jumlah total kasus naik hampir 5.000.

Menambah sentimen ada juga ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Kepala Pengawal Revolusi elit Iran Hossein Salami mengatakan Kamis bahwa negara itu siap menyerang AS dan Israel jika mereka membuat “kesalahan.”

“Jika kamu membuat kesalahan sekecil apa pun, kami akan memukulmu berdua,” sergahnya, menurut Reuters.

Source : investing.com


Virus Makin Ganas Yen Kian Kuat, Euro Jatuh Akibat Pertumbuhan Lemah

Category : Currency

Yen Jepang melanjutkan tren penguatan terhadap dolar AS pada Jumat (14/02) di tengah kekhawatiran baru seputar wabah virus covid-19 mendukung permintaan atas mata uang safe haven dan ini turut pula membebani harga aset berisiko.

Menurut laporan yang dilansir Reuters Jumat (14/02) pagi, yuan Cina mengalami kerugian pada perdagangan luar negeri dipicu virus covid-19, yang muncul akhir tahun lalu di Provinsi Hubei Cina, menghantam rem belanja konsumen dan manufaktur negeri tirai bambu ini.

Euro jatuh ke posisi terendah multi tahun terhadap dolar AS dan franc Swiss seiring pandangan investor tumbuh lebih pesimis terhadap prospek ekonomi kawasan Eropa sebelum rilis data produk domestik bruto Jumat ini.

Sebaliknya, pound naik dan mengirim gelombang optimisme ke Asia pada hari Jumat lantaran harapan bahwa perombakan kabinet Inggris akan mengarah pada kebijakan fiskal yang lebih ekspansif untuk mendukung pertumbuhan.

Pejabat di Hubei mengejutkan pasar keuangan pada Kamis dengan mengumumkan peningkatan tajam jumlah infeksi baru dan juga kematian akibat virus covid-19 setelah mengadopsi metode diagnosis baru atas penyakit ini.

Yen (JPY/USD) sedikit menguat di 109,79 per dolar pada Jumat di Asia dan berada di jalur untuk kenaikan pada hari kedua.

Di pasar luar negeri, yuan CNY/USD dikutip di level 6,9910, menyusul penurunan 0,2% pada hari Kamis.

Pejabat Hubei pada hari Jumat melaporkan 4.823 kasus baru dan 116 kematian baru pada 13 Februari, tetapi investor masih terlihat goyah setelah Hubei melaporkan 14.840 kasus baru dan mencatat peningkatan harian dalam jumlah kematian pada hari Kamis setelah menggunakan metode diagnostik baru untuk klasifikasi ulang tumpukan kasus yang ada.

Euro turun 0,1% ke $1,0827, tingkat terendah sejak April 2017 lantaran investor bersiap untuk rilis data PDB Jerman dan kawasan Eropa Jumat ini. Sedangkan EURCHF dikutip di 1,0614 per franc Swiss, mendekati level terendah sejak Agustus 2015. Euro sedikit menurun terhadap pound di 83,06 pence, mendekati titik terlemah sejak Desember.

Sementara pound Inggris sedikit berubah di $1,3046 setelah mendapat dorongan kenaikan sebesar 0,64% pada hari Kamis.

Source : investing.com


Harga Minyak Melonjak 3% Imbas Meredanya Virus Korona

Category : Comodities

Harga minyak naik lebih dari 3% pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat setelah China melaporkan jumlah kasus baru virus korona atau corona virus terendah secara harian. Hal ini memicu harapan investor akan permintaan bahan bakar di China mulai pulih.

Melansir Reuters, Jakarta, Kamis (13/2/2020), harga minyak berjangka Brent naik USD1,78 atau 3,3% ke level USD55,79 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD1,23 atau 2,5% menjadi USD51,17.

Harga ini tertinggi sejak Januari meskipun pemerintah AS melaporkan persediaan mingguan yang lebih besar dari perkiraan dalam persediaan minyak mentah yang diimbangi oleh penurunan stok bahan bakar, termasuk penarikan bensin yang tak terduga.

Persediaan minyak mentah naik 7,5 juta barel pekan lalu, Administrasi Informasi Energi mengatakan, dibandingkan dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters untuk kenaikan 3 juta barel.

“Permintaan bensin mulai rebound dan penarikan sederhana dalam bahan bakar penyulingan membantu untuk mengimbangi bearish, headline minyak mentah,” kata mitra di Again Capital di New York John Kilduff.

Menurut data hingga Selasa, tingkat pertumbuhan kasus baru virus korona di China telah melambat ke level terendah sejak 30 Januari. Namun, para pakar internasional tetap berhati-hati dalam memprediksi kapan virus korona ini akan berakhir.

“Laporan dari China menunjukkan pengurangan jumlah kasus baru virus korona,” kata Presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois Jim Ritterbusch,

Sekadara catatan, pembatasan perjalanan ke dan dari China telah mengurangi penggunaan bahan bakar. Dua kilang terbesar China mengatakan mereka akan mengurangi pemrosesan sekitar 940.000 barel per hari (bpd) sebagai akibat dari penurunan konsumsi atau sekitar 7% dari proses pengolahan 2019 mereka.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pun memangkas perkiraan pertumbuhan global dalam permintaan minyak karena coronavirus sebesar 230.000 barel per hari, penilaian yang cukup sederhana dibandingkan dengan peramal lainnya.

Di sisi lain, Pemerintah AS pada hari Selasa memangkas perkiraan pertumbuhannya untuk tahun ini sebesar 310.000 barel per hari.

Kekhawatiran pasar akan virus korona telah menekan harga minyak Brent dan WTI ke level terendah dalam 13 bulan pada hari Senin. “Jelas, perkembangan yang sedang berlangsung di China membutuhkan pemantauan dan penilaian yang berkelanjutan,” kata OPEC.

Source : okezone.com