Category Archives: Currency

Jumat Pagi, Rupiah Perkasa Kembali Menuju Level 16.000

Category : Currency

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali bergerak menguat Jumat (27/03) pagi. Mengutip data Investing.com pukul 11.13 WIB, Rupiah USD/IDR menguat 1,29% atau naik 210,0 poin di 16.065,0 per dolar AS.

Kala pembukaan pasar, rupiah berhasil menguat di atas 1% dan menjadi mata uang terbaik di Asia sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia Jumat (27/03). Namun seiring perjalanan hingga pukul 10.06 WIB, performa rupiah mengendur sehingga posisinya tersalip oleh para tetangganya. Kini ringgit Malaysia berada di puncak ‘klasemen’ mata uang Asia. Disusul oleh rupee India sebagai runner-up dan yen Jepang di posisi ketiga.

Pelaku pasar sempat sangat panik gara-gara penyebaran virus corona yang semakin meluas lanjut laporan. Namun, kepanikan investor mereda dalam tiga hari terakhir. Penyebabnya adalah paket stimulus yang siap digelontorkan berbagai negara untuk meredam dampak virus corona.

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengatakan kepada Kontan Jumat, penguatan rupiah tidak lepas dari kembalinya risk appetite pelaku pasar setelah paket stimulus AS senilai US$ 2 triliun disepakati. Minat pelaku pasar pada aset berisiko termasuk rupiah kembali muncul karena stimulus tersebut bisa mencegah kekacauan ekonomi Negeri Uwak Sam akibat pandemi corona.

Senada ungkap Antaranews Jumat, Kepala Riset Monex Investindo Futures mengatakan rupiah hari ini diprediksi terdorong oleh penguatan bursa saham AS pada Kamis (26/3) kemarin di tengah sentimen gelontoran stimulus $2 triliun dari Amerika Serikat.

Senat AS sendiri sudah menyetujui proposal stimulus tersebut, tinggal DPR AS yang dikuasai oleh Partai Demokrat yang akan memberikan persetujuan hari ini. Sementara itu, DPR AS diperkirakan juga akan langsung menyetujui paket stimulus tersebut.

Source : investing.com


Panik Pasar Reda, Dolar AS Menuju Penurunan Terbesar Satu Dekade

Category : Currency

Dolar AS menuju penurunan mingguan terbesar selama lebih dari satu dekade pada Jumat (27/03) seiring dengan serangkaian langkah stimulus di seluruh dunia termasuk paket $2,2 triliun menenangkan kepanikan atas resesi global akibat merebaknya wabah virus covid-19.

Menurut data Investing.com pukul 09.24 WIB, dolar AS melemah 0,11% di 99,345 terhadap sejumlah mata uang.

Data menunjukkan peningkatan klaim pengangguran AS yang belum pernah terjadi sebelumnya menggarisbawahi dampak buruk virus pada perekonomian mengutip Reuters Jumat (27/03) pagi. Tetapi penguatan lanjutan saham-saham di Wall Street meningkatkan harapan pembalikan aksi penjualan aset berisiko.

Dolar AS terhadap Yen Jepang USD/JPY turun ke 108,36 atau jatuh 1,12% Kamis pagi sementara euro terhadap Dolar AS EUR/USD menguat 0,14% di 1,1043.

Sedangkan sterling melonjak 2,8% semalam sebelum melepaskan sebagian dari keuntungan pada perdagangan Asia awal. Pound Inggris terakhir turun 0,02% di 1,2199 terhadap dolar AS.

Sementara terhadap Rupiah, US Dollar USD/IDR juga mengalami penurunan 0.06% ke level 16.265.

Pelonggaran kondisi pendanaan dolar membantu mengurangi permintaan terhadap dolar.

Jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim untuk tunjangan pengangguran melonjak ke tingkat rekor lebih dari 3,28 juta pekan lalu karena langkah-langkah ketat untuk menahan pandemi virus menimbulkan gelombang PHK.

Sementara itu melampaui rekor sebelumnya sebanyak 695.000 terjadi pada tahun 1982 dan naik 3 juta dari minggu lalu. Angka ini di bawah ketakutan terburuk investor.

Pasar tetap fokus pada stimulus $2,2 triliun yang belum pernah terjadi sebelumnya dan diharapkan akan disetujui oleh DPR AS pada hari Jumat.

Source : investing.com


Dolar AS Turun, tapi Masih Terus Diburu

Category : Currency

Dolar AS beranjak turun pada Selasa (24/03) pagi tapi masih berada di sekitar level tertinggi tiga tahun terhadap sejumlah mata uang. Saat ini investor terus beralih ke mata uang pendanaan dan mata uang penyelesaian utama dunia sebelum terjadinya penurunan tajam arus kas.

Reaksi pasar beragam merespon berbagai program luar biasa Federal Reserve AS dan juga menjadi langkah darurat ketiga dari bank sentral AS itu untuk bulan ini menurut Reuters Selasa (24/03) pagi.

Mengutip data Investing.com Selasa pukul 10.10 WIB, US Dollar Index kembali turun 0,78% di 101,69 terhadap sejumlah mata uang utama Selasa (24/03) pagi pada pukul 09.54 WIB.

Terhadap yen, dolar USD/JPY juga melemah 0,74% di 110,36, setelah mencapai level tertinggi satu bulan di 111,59.

Euro EUR/USD bergerak menguat 0,84% di 1,0811 per dolar setelah menyentuh level terendah tiga tahun di $1,0636 pada sesi sebelumnya.

Pound Inggris juga menguat 0,81% di 1,1642 meski mata uang ini tetap di kisaran level terendah 35 tahun di $1,1413 pada minggu lalu.

The Fed mengumumkan kebijakan pelonggaran kuantitatif tak terbatas dan program-program lain yang mendukung pasar kredit pada Senin dalam upaya ekstrem guna menghambat sektor pelemahan ekonomi terdampak dari pembatasan darurat pada sektor perdagangan.

Program ini mencakup pembelian obligasi perusahaan, jaminan pinjaman langsung ke perusahaan dan rencana untuk memberikan kredit bagi usaha kecil dan menengah.

Source : investing.com


Rupiah Diprediksi Bisa Berbalik Perkasa Lawan Dolar AS

Category : Currency

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra memprediksi pergerakan rupiah pada Hari ini bisa menguat terhadap dolar AS.

Menurut pengamatannya, pengumuman mendadak Bank Sentral AS kemarin malam yang akan merilis program kredit ke pebisnis AS melalui perbankan telah memberikan sentimen positif ke sebagian aset berisiko.

Selain itu, indeks saham Asia seperti Nikkei dan Kospi terlihat menguat. Demikian juga indeks saham Australia dan indeks saham Futures S&P500. 

Mata uang emerging market juga terlihat menguat terhadap dolar AS. Hal tersebut juga akan memberikan sentimen positif ke rupiah hari ini. 

“Rupiah mungkin bisa menguat ke arah support Rp 16.000,” kata Aris dalam riset hariannya, Selasa (24/3/2020).

Berdasarkan data Bloomberg pergerakan rupiah pada Senin kemarin (23/3/2020) lalu berada di level Rp 16.492 per dolar. Level itu menguat dibanding pergerakan Jumat sebelumnya di level Rp 16.575 per dolar AS. 

Sementara, Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, rupiah pada Senin kemarin berada di level Rp 16.608 per dolar AS. Posisi itu melemah dibandingkan pada Jumat sebelumnya yang di level Rp 16.273 per dolar AS.

Source : suara.com


Rupiah resmi jadi mata uang terlemah di Asia, sepanjang 2020 anjlok 19,35%

Category : Currency

Sempat menyandang mata uang paling perkasa di kawasan Asia, kini rupiah lemah tak berdaya. Bahkan, kini posisi rupiah tinggal selangkah lagi untuk mencetak rekor terburuk sepanjang masa.

Mengutip Bloomberg, Senin (23/3) pukul 10.45 WIB, rupiah masih berada di level Rp 16.550 per dolar Amerika Serikat, turun 3,69% dibanding penutupan Jumat (20/3) di Rp 15.960 per dolar AS.

Selangkah lagi, rupiah mengincar rekor terburuknya sepanjang masa yang sebelumnya dicetak pada 17 Juni 1998, yakni di level 16.650 per dolar AS.

Dengan posisi saat ini pun, rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan. Sepanjang tahun ini, mata uang Garuda tersebut sudah anjlok 19,35%. Mengingat pada 31 Desember 2019 lalu, rupiah masih tenang di posisi Rp 13.866 per dolar AS.

Koreksi rupiah sudah jauh di atas mata uang di kawasan lainnya. Lihat saja, won Korea yang sebelumnya menyandang mata uang dengan pelemahan terdalam, kini ada di level 1.277,57 atau turun 10,53% secara year to date (ytd).

Pelemahan terbesar lainnya adalah baht Thailand. Sepanjang tahun ini, baht sudah ambles 10,10% ke level 32.995 per dolar AS. 

Hingga saat ini, rupiah masih dalam tekanan dari penyebaran virus corona. Jakarta, yang merupakan pusat perekonomian Indonesia, merasakan dampak paling besar. Di sisi lain, rupiah juga di hadang oleh defisit transaksi berjalan yang masih menghantui.

Source : kontan.co.id


Senin Pagi, Dolar AS Melemah terhadap Yen, Euro dan Pound

Category : Currency

Dolar AS melemah terhadap yen euro pada Senin (23/03) seiring kembali munculnya tren penurunan baru bursa global dan kekhawatiran pengetatan likuiditas di tengah memburuknya krisis virus covid-19 yang mendorong peralihan ke aset tunai.

Menurut laporan yang dilansir Reuters Senin (23/030 pagi, dolar AS sempat naik terhadap sterling menuju tingkat terkuat setidaknya sejak tahun 1985. Mata uang AS mencapai titik tertinggi dalam hampir tiga tahun terhadap euro. Greenback juga naik menuju tingkat tertinggi 17 tahun terhadap dolar Australia dan mendekati puncak 11 tahun terhadap dolar Selandia Baru karena investor membuang aset berisiko.

Bursa saham berjangka AS dan harga minyak berada di bawah tekanan lanjutan pada awal perdagangan Asia dan kedua aset ini anjlok lebih 3%. Hal ini mendorong dolar AS beranjak lebih tinggi karena banyak negara menerapkan lockdown (penguncian) dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran virus.

Investor juga berharap bahwa pengeluaran fiskal besar dapat mengurangi kerusakan pada ekonomi global, tetapi ketidakpastian seputar penyebaran virus kemungkinan akan mendukung dolar di masa depan.

Pada pukul 10.20 WIB menurut data Investing.com, dolar AS GBP/USD melemah 0,05% di kisaran 1.1647 terhadap pound, ada di dekat level tertinggi setidaknya sejak 1985. Dolar AS EUR/USD melemah 0,22% di 1.0718 terhadap euro.

Greenback masih menguat di level tertinggi multi tahun terhadap dolar Australia di 0,5759 atau menguat 0.67% dan Selandia Baru di 0,5640 atau naik 1.20%.

Terhadap yen, USD/JPY mata uang naik ini turun 0,47% di 110,28.

Indeks dolar AS US Dollar Index Senin pagi juga melemah 0,60% di 102,20.

Source : investing.com


Terus Tertekan, Rupiah Sentuh Rp 16.273 per Dolar AS

Category : Currency

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus belanjut. Dalam situs resmi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor, mencatat nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS hingga menjadi Rp 16.273 per dolar AS pada Jumlat (20/3).

“Dalam perdagangan Jumat ini rupiah masih akan tertekan di level Rp 15.800-Rp 16.150 per dolar,” kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Jumat (20/3).

Pasar global telah jatuh dalam beberapa pekan terakhir karena kepanikan pasar akibat wabah Virus Corona baru atau Covid-19 dan pemerintah merespons dengan semakin ketatnya pembatasan perjalanan dan kehidupan sehari-hari serta mendorong konsumen untuk tinggal di rumah dan mengendalikan pengeluaran.

Wabah tersebut sekarang telah dilaporkan di lebih dari 100 negara dan telah merenggut lebih dari 8.000 jiwa. Demi menghambat laju penularan Covid-19, berbagai negara menerapkan kebijakan yang ekstrem. Pergerakan masyarakat dibatasi, akses keluar masuk ditutup, dan sebagainya.

Teranyar, pemimpin 27 negara Uni Eropa sepakat untuk menutup perbatasan selama 30 hari ke depan. “Pergerakan masyarakat yang terbatas bertujuan untuk melindungi nyawa, yang lebih berharga dari apa pun di dunia. Namun tidak bisa dipungkiri hal ini akan menghambat roda perekonomian. Bahkan bayangan resesi sepertinya semakin nyata dari hari ke hari,” ujar Ibrahim.

Dari domestik, Bank Indonesia baru saja menurunkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 4,5 persen. Namun rupiah terus melemah akibat pasar yang panik karena dinamika penyebaran Covid-19 yang cepat.

Source : republika.co.id


Dolar AS Melemah, Siap Catat Pekan Terbaik sejak Krisis 2008

Category : Currency

Dolar AS saat ini mengalami koreksi turun dan namun mencatatkan tingkat kenaikan mingguan terbesar sejak krisis 2008 pada Jumat (20/03). Lonjakan dolar AS ini terjadi karena pandemi covid-19 memicu peningkatan permintaan uang tunai sehingga mengguncang pasar keuangan dunia.

US Dollar Index bergerak melemah 0,72% menjadi 102,01 Jumat (20/03) pagi pukul 10.00 WIB menurut data Investing.com.

Dilansir Reuters Jumat (20/03) pagi, bahkan bank sentral AS Federal Reserve sudah memperpanjang pendanaan diskon dolar AS – yang sudah tersedia bagi enam bank sentral terbesar dunia – menjadi sembilan. Hal ini hanya menunjukkan tanda-tanda paling kondisional dari permintaan yang memuaskan untuk greenback.

Pada perdagangan yang fluktuatif di Asia pound Inggris jatuh ke level terendah baru 35 tahun di $1,1414. Dolar Australia dan Dolar Selandia Baru juga naik-turun dalam kisaran 1,5 poin – sebelum akhirnya berubah positif.

Dolar AS USD/JPY naik 0,5% terhadap yen ke level tertinggi satu bulan di 111,30 yen. Likuiditas yang tipis telah berkurang lebih lanjut karena hari libur di Jepang, sehingga ini memperburuk pergerakan tajam mata uang.

Greenback telah naik 4,5% terhadap sejumlah mata uang minggu ini dan ini merupakan level terbaik sejak 2008.

Source : investing.com


Euro Menguat Didorong Program Pembelian Aset ECB, Dolar AS Masih Teratas

Category : Currency

Euro menguat terhadap dolar AS dan pound pada Kamis pagi setelah Bank Sentral Eropa atau ECB mengumumkan program pembelian aset senilai 750 miliar euro untuk menghadapi dampak wabah covid-19.

Sterling turun nyaris ke level terendah sejak 1985 terhadap greenback. Dolar Australia terjepit di level terendah 17-tahun, sementara dolar Selandia Baru jatuh ke level terendah 11-tahun karena rendahnya likuiditas di pasar keuangan lain mendorong para investor memburu uang tunai, ungkap berita yang dilansir Reuters Kamis (19/03).

ECB mengatakan program baru, yang menargetkan aset sektor publik dan swasta, akan dilakukan hingga akhir 2020.

Pengumuman ECB terbaru merupakan bagian dari rangkaian langkah bank sentral utama minggu ini untuk mengimbangi dampak wabah covid-19 terhadap ekonomi global dan pasar keuangan.

Analis mengatakan kenaikan euro kemungkinan hanya sesaat karena banyak investor melakukan aksi jual berbagai instrumen keuangan dan beralih ke uang tunai dalam dolar AS karena tingkat ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat wabah covid-19.

“Euro sedang diburu karena ECB, yang sebelumnya terlihat agak enggan bergerak, akhirnya melakukan tindakan sangat berani,” kata Takuya Kanda, Manajer Umum departemen penelitian di Gaitame.com Research Institute di Tokyo.

Euro (EUR/USD) naik 0,37% menjadi $ 1,0953 di awal sesi Asia pada Kamis pagi. Terhadap pound, euro naik 0,6% menjadi 94,30 pence.

Menurut data investing.com Kamis pukul 9.05 WIB, Euro naik 0,14% menjadi 1,0580 terhadap Franc Swiss. Terhadap Yen Jepang, mata uang ini naik 0,77% menjadi 118,82.

Skema pembelian ECB, yang diumumkan pada pertemuan darurat Rabu malam, diambil kurang dari seminggu setelah pembuat kebijakan meluncurkan langkah-langkah stimulus baru.

Program pembelian aset ini juga akan mencakup utang dari Yunani, yang sejauh ini telah ditutup dari pembelian obligasi ECB karena peringkat kreditnya yang rendah, kata ECB.

Menurut data investing.com Kamis pukul 9.05 WIB, Pound (GBP/USD turun ke level $1,1505 terhadap Dolar AS, Dolar Selandia Baru mencapai level terendah 11-tahun $ 0,5549 di awal perdagangan Asia. Dolar Australia juga turun 3,40% menjadi $ 0,5579. Terhadap yen, greenback (USD/JPY) menguat 1,02% menjadi 109,17, dan melanjutkan penguatan terhadap rupiah 1.35% di level 15.405.

Source : investing.com


Dolar AS Lanjut Penguatan Dipicu Meningkatnya Permintaan di Mancanegara

Category : Currency

Dolar AS melanjutkan tren penguatan terhadap sebagian besar mata uang utama pada Rabu pagi, setelah imbal hasil obligasi AS melonjak dan ketakutan yang semakin mendalam terhadap covid-19 mendorong perebutan mendapatkan greenback.

Pound dan Yen naik tipis, Yen (USD/JPY) terakhir naik 0,3% pada 107,37 per dolar, sementara pound (USD/GBP) naik 0,5% pada $ 1,2108 dan euro (EUR/USD) stabil di $ 1,1000.

Keduanya jauh di bawah level sepekan lalu karena investor menjual apa saja untuk mendapatkan dolar dan bisnis berusaha menarik pinjaman dan menimbun uang tunai untuk keluar dari krisis, menurut berita yang dilansir Reuters Rabu (18/03) pagi.

“Itu semua dipicu kekurangan dolar AS,” kata Gunter Seeger, wakil presiden senior PineBridge Investments di New York.

Dislokasi di pasar obligasi AS, yang menjadi tempat imbal hasil utang pemerintah berputar-putar selama sepekan terakhir, menggambarkan keputusasaan untuk mendapatkan uang tunai, bahkan sete;ah Federal Reserve AS memompa likuiditas ke dalam sistem.

“Orang-orang sangat, sangat gugup,” kata Seeger. “Semua orang gugup tentang virus, tentang harga minyak, tentang pekerjaan mereka, tentang segalanya.”

Sementara covid-19 terus menyebar, dan banyak negara menerapkan pembatasan sosial yang ketat guna membendung wabah tersebut.

Korban kematian global sudah di atas 7.800, sementara jumlah kasus mendekati 200.000 dan dampak ekonomi akibat penguncian global meningkat.

Imbal hasil obligasi AS 10-tahun melonjak 34 basis poin lebih tinggi semalam, kenaikan satu hari terbesar sejak 2004.

Imbal hasil yang lebih tinggi juga menambah daya tarik untuk memiliki dolar, di tengah tanda-tanda meningkatnya pasokan – terutama di luar negeri.

Spread swap lintas mata uang, yang menunjukkan biaya meminjam dolar di luar negeri, mencapai jumlah terlebar dalam beberapa tahun.

Spread swap berbasis mata uang silang euro/dolar tiga bulan naik 120 basis poin – terlebar sejak akhir 2011 – sebelum jatuh kembali ke 39 basis poin.

Spread untuk Aussie dan yen juga melebar secara dramatis. Mata uang berisiko juga terpukul dengan mood, dan melanjutkan penurunan besar pada Rabu pagi.

Source : investing.com