Corona bangkit di Eropa, harga minyak acuan anjlok lebih dari 1%

Harga minyak mentah ambruk karena kekhawatiran pemulihan ekonomi di Amerika Serikat (AS), yang merupakan konsumen minyak terbesar dunia. Tekanan bagi harga emas hitam ini kian dalam karena pandemi virus corona yang kebangkitan kembali di Eropa menyebabkan pembatasan perjalanan baru di kawasan tersebut.

Ketakutan tersebut membuat pelaku pasar memborong dolar AS yang merupakan aset safe haven. Dengan posisi dolar AS yang lebih kuat maka harga minyak menjadi lebih mahal bagi penguna mata uang asing lainnya. 

Mengutip Reuters, Kamis (24/9) pukul 11.45 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman November 2020 turun 60 sen atau 1,5% menjadi US$ 39,33 per barel. 

Setali tiga uang, harga mentah berjangka jenis Brent kontrak pengiriman November 2020 melemah 50 sen atau 1,2% menjadi US$ 41,27 per barel.

Kedua benchmark naik sedikit pada sesi sebelumnya setelah data pemerintah AS menunjukkan stok minyak mentah dan bahan bakar turun di pekan lalu. 

Persediaan bensin bahkan turun lebih dari yang diharapkan, setelah berkurang 4 juta barel, dan stok distilat, termasuk solar dan bahan bakar jet, mencatatkan penurunan mengejutkan sebesar 3,4 juta barel pada pekan yang berakhir 18 September lalu.

Namun, permintaan bahan bakar di AS tetap tenang karena pandemi virus corona membatasi perjalanan. Rata-rata empat minggu permintaan bensin adalah 8,5 juta barel per hari (bph) di pekan lalu. Berdasarkan data pemerintah, jumlah tersebut turun 9% dari tahun sebelumnya.

Tekanan bagi minyak juga datang setelah data aktivitas bisnis di Negeri Paman Sam melambat pada bulan September. Pejabat Federal Reserve menandai kekhawatiran tentang pemulihan yang terhenti, dan Inggris serta Jerman memberlakukan pembatasan untuk membendung infeksi virus corona baru, membuat prospek permintaan bahan bakar kian suram.

“Karena kekhawatiran permintaan dan komentar dari The Fed disaring, harga turun,” kata analis komoditas Commonwealth Bank Vivek Dhar.

Di sisi penawaran, pasar tetap waspada terhadap dimulainya kembali ekspor dari Libya, meskipun tidak jelas seberapa cepat hal itu dapat meningkatkan volume. National Oil Corp (NOC) Libya berupaya untuk meningkatkan produksi menjadi 260.000 barel per hari pada minggu depan.

“Itu jelas akan menjadi sesuatu yang tidak dibutuhkan pasar minyak saat ini,” kata Dhar.

Riset ANZ menunjukkan meningkatnya kasus virus corona di Eropa yang memangkas permintaan perjalanan, dengan lalu lintas udara sekarang 60% di bawah level 2019 menyusul penurunan tajam selama dua minggu terakhir, menurut data Eurocontrol.

Source : id.investing.com