Mata uang euro jatuh pada hari Senin (24/09) setelah data menunjukkan bahwa sektor swasta Jerman melambat untuk pertama kalinya selama lebih dari enam tahun dan ini meningkatkan kekhawatiran atas resesi yang semakin dalam pada perekonomian terbesar di kawasan euro.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) awal komposit Markit, yang mengukur sektor manufaktur dan jasa dengan menyumbang lebih dari dua pertiga PDB, turun menjadi 49,1 dari 51,7 pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, sterling kembali melemah setelah negosiator Uni Eropa untuk Brexit mengatakan tidak mungkin kesepakatan Brexit akan tercapai selama Perdana Menteri Boris Johnson bersikeras bahwa kesepakatan backstop Irlandia dibatalkan.

“Berdasarkan pemikiran Inggris saat ini, adalah hal yang sulit untuk melihat bagaimana kita bisa sampai pada solusi yang berlaku sah dan memenuhi semua tujuan dari kesepakatan backstop tersebut. Ini berada dalam fase yang sangat sensitif dan rumit,” kata Michel Bernier, Senin.

Pound jatuh 0,4% ke 1,2427 pada pukul 10:59 ET (14:59 GMT), dan EUR/USD juga tergelincir 0,2% mencapai 1,0993.

Sementara itu dolar AS menguat di tengah kekhawatiran perdagangan, setelah delegasi Cina mengakhiri kunjungannya lebih awal di AS. Kedua belah pihak mengatakan perundingan berlangsung konstruktif, tetapi tidak ada pihak yang memberikan rincian tentang apa yang dibahas. Para pejabat Cina diperkirakan akan mengunjungi berbagai wilayah pertanian AS tetapi mengumumkan pada Jumat silam bahwa mereka akan pulang lebih awal dan ini memicu spekulasi ketidakpastian seputar perundingan perdagangan.

Indeks dolar AS meningkat sebesar 0,1% ke 98,238.

Di tempat lain, USD/CAD naik 0,1% menyentuh 1,3275. Yen Jepang, yang dipandang sebagai instrumen safe haven di saat terjadi gejolak pasar, bergerak menguat di mana USD/JPY jatuh 0,2% ke 107,34.

Source : investing.com