Dolar AS Balik Melemah, Anggota Fed Beri Pesan Beragam

Dolar Amerika Serikat balik melemah pada Kamis (24/06) petang. Trader mengolah beragam pendapat dari para pengambil kebijakan Federal Reserve mengenai kemungkinan waktu penarikan stimulus moneter.

Pada pukul 15.04 WIB, indeks dolar AS melemah tipis 0,03% ke 91,757 terhadap sejumlah mata uang lainnya. USD/JPY turun 0,04% di 110,90, EUR/USD naik tipis 0,07% ke 1,1934 dan AUD/USD sedikit menguat 0,01% di 0,7576 menurut data Investing.com.

Di dalam negeri, rupiah berakhir turun tipis 0,07% di 14.440,0 per dolar AS sampai pukul 14.59 WIB.

Greenback sempat menerima beberapa dukungan pada hari Rabu setelah Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic dan Gubernur Fed Michelle Bowman mengatakan lonjakan harga konsumen baru-baru ini kemungkinan bersifat sementara, tetapi akan memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan saat ini untuk berkurang.

Hal ini berbeda dengan pandangan Ketua Fed Jerome Powell sehari sebelumnya yang tampak mengabaikan dampak kenaikan inflasi.

Bostic mengatakan ia sekarang menginginkan pertumbuhan 7% pada tahun 2021 dan inflasi untuk tahun ini menjadi 3,4%, dan dengan pemikiran ini ia mengharapkan suku bunga acuan Fed perlu meningkat pada paruh kedua tahun depan.

Ini menegaskan bahwa ia adalah salah satu dari tujuh pejabat FOMC yang memperkirakan pada pertemuan Federal Reserve minggu lalu bahwa suku bunga perlu dinaikkan tahun depan, sebuah langkah yang membuat dolar tersentak menguat.

Pandangan dari pejabat the Fed berlanjut pada Kamis. Enam pejabat Fed selanjutnya akan berbicara nanti, sementara perhatian juga akan tertuju pada data mingguan klaim pengangguran awal yang diamati untuk mengukur sejauh mana pemulihan tenaga kerja pasar.

Adapun, GBP/USD juga naik tipis 0,06% di 1,3967 menjelang pertemuan penetapan kebijakan terbaru dari Bank of England (BOE).

Bank sentral tersebut diperkirakan tidak akan mengubah suku bunga atau program pembelian obligasinya, tetapi kemungkinan harusnya menjelaskan pemikirannya mengingat harga konsumen telah naik di atas target 2% untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun.

Selain itu, “kekhawatiran tentang penyebaran varian virus Delta seharusnya mencegah penetapan harga ulang hawkish lanjutan dari prospek pasar untuk Bank of England,” sebut analis di ING dalam catatan.

Source : id.investing.com