Dolar AS Bergerak Naik Tipis, BOE Beri Sinyal Kenaikan Bunga Lebih Awal

Dolar AS bergerak naik, dan poundsterling hampir mencapai level puncak Selasa pada Kamis (21/10), di tengah ekspektasi yang menguat bahwa Bank of England (BOE) akan menaikkan suku bunga paling lambat November 2021.

Mata uang komoditas berada di dekat level tertinggi multi bulan, harga bahan baku juga naik dan meningkatnya sentimen risiko membuat investor menjauh dari mata uang safe haven AS, yang baru-baru ini ditopang oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve AS akan memulai pengurangan aset.

Indeks Dolar AS bergerak menguat tipis 0,05% di 93,578 pukul 13.07 WIB.

Pasangan USD/JPY turun 0,18% ke 114,06. Rupiah melemah 0,46% di 14.137,5 per dolar AS hingga pukul 13.07 WIB.

Pasangan AUD/USD sedikit turun 0,13% di 0,7505 sedangkan NZD/USD turun tipis 0,13% di 0,7192.

Pasangan USD/CNY naik tipis 0,01% di 6,3941 dan GBP/USD sedikit melemah 0,05% di 1,3816.

“Tampaknya hampir pasti bahwa BOE akan menaikkan suku bunga pada bulan November, kemungkinan lagi pada bulan Desember, karena jika tidak inflasi bisa di luar kendali akibat faktor kekurangan tenaga kerja yang parah,” kata ahli strategi senior Daiwa Securities Yukio Ishizuki kepada Reuters.

“Dan secara global kita cenderung melihat kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi di banyak negara, yang berarti dolar AS kurang menonjol dari sebelumnya, dalam hal ekspektasi kenaikan suku bunga.”

Di seberang Atlantik, The Fed diperkirakan akan mengumumkan awal pengurangan aset pada pertemuannya November 2021. Namun, bank sentral ini diperkirakan tidak akan memulai kenaikan suku bunga hingga 2022.

“Seolah-olah BoE mencuri sorotan dari The Fed lantaran tampaknya akan menaikkan suku bunga sebelum The Fed. Apa yang bisa menjadi pengubah permainan, adalah jika The Fed juga ikut-ikutan dalam kenaikan suku bunga global lebih cepat dari yang diharapkan,” presiden perusahaan algotech Ryobi Systems Kyosuke Suzuki kepada Reuters.

Sementara itu, mata uang komoditas sempat memimpin kenaikan terhadap dolar setelah harga minyak naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Dolar Australia juga sempat berada di level tertinggi tiga setengah bulan sementara rekannya dari Selandia Baru juga mencapai puncaknya dalam empat bulan.

“Mengingat kenaikan besar-besaran dalam harga komoditas, mata uang terkait komoditas akan mengalami penurunan,” sebut Teppei Ino, ahli strategi mata uang senior di MUFG Bank.

Source : id.investing.com