Dolar AS Bergerak Turun Seiring Meningkatnya Sentimen Risiko

Dolar Amerika Serikat bergerak turun pada Senin (22/02) pagi seiring berlanjutnya kemajuan pengendalian virus COVID-19 sehingga mendorong sentimen risiko.

Indeks dolar AS turun 0,02% ke 90,347 pukul 10.03 WIB menurut data Investing.com.

Di Indonesia, rupiah kembali melemah 0,28% ke 14.100,0 per dolar AS hingga pukul 10.01 WIB (USD/IDR).

Pada pukul 09.54 WIB, USD/JPY naik 0,18% ke 105,62, AUD/USD menguat 0,10% di 0,7877 dan NZD/USD naik 0,18% ke 0,7317. Memberi dorongan pada mata uang berisiko yakni peluncuran vaksin COVID-19 dari Selandia Baru yang memulai program vaksinasi pada hari Minggu dan Australia pun mengikutinya hari ini.

Australia juga tampaknya tidak akan melaporkan kasus lokal selama tiga hari berturut-turut. Fitch juga mengatakan pada hari Senin bahwa vaksin juga akan mengurangi risiko ekonomi Australia selama tahun ini dan mempertahankan peringkat kredit AAA negara itu, meskipun dengan prospek negatif.

Pasangan USD/CNY naik 0,13% ke 6,4637 pukul 09.59 WIB. Pasangan GBP/USD menguat tipis 0,03% ke 1,4019. Di Inggris, investor menunggu rencana Perdana Menteri Boris Johnson untuk menurunkan kebijakan penguncian COVID-19 karena negara tersebut terus maju dengan salah satu peluncuran global vaksin tercepat.

Investor pun bergerak menuju mata uang yang memiliki hubungan dekat dengan perdagangan komoditas karena sentimen risiko yang membaik juga menguntungkan mata uang risiko. Dolar AS turun menuju level terendah tiga tahun terhadap NZD, sedangkan AUD berada pada level tertinggi sejak Maret 2018.

Beberapa investor mengatakan bahwa greenback safe haven kemungkinan akan turun lebih jauh karena fokus tetap pada pemulihan ekonomi global dari COVID-19, dan kemajuan melawan pandemi terus dilakukan.

“Mata uang komoditas dan pound sangat kuat terhadap dolar, dan tren ini tampaknya akan berlanjut,” ahli strategi valuta asing Daiwa Securities, Yukio Ishizuki mengatakan kepada Reuters.

“Program vaksinasi Inggris membuat banyak kemajuan. Aktivitas ekonomi secara bertahap kembali normal di banyak tempat, yang memberikan tekanan pada dolar,” tambah Ishizuki.

Juga berkontribusi terhadap tekanan untuk dolar adalah posisi short bersih dolar jatuh ke $29,09 miliar selama minggu sebelumnya, menurut data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC). Ini adalah level terendah dolar sejak pertengahan Desember dan penurunan empat minggu berturut-turut, sebuah indikasi bahwa beberapa optimisme dolar tetap ada.

Kenaikan baru-baru ini dalam imbal hasil obligasi jangka panjang dan respons COVID-19 AS yang meningkat akan memberi dolar sedikit dukungan, kata Ishizuki dari Daiwa.

Sementara itu, bitcoin kembali naik 1,08% ke $56,959.2 pukul 10.04 WIB.

Source : id.investing.com