© Reuters.

Dolar Amerika Serikat turun tipis pada hari Selasa (02/02) setelah euro berakhir di zona merah pada perdagangan Senin (01/02) akibat kebijakan pembatasan COVID-19 di benua itu menyebabkan penurunan belanja konsumen.

Indeks dolar AS sedikit melemah 0,09% di 90,942 menurut data Investing.com pukul 13.23 WIB. Pasangan USD/JPY naik tipis 0,06% ke 104,97, AUD/USD stagnan di 0,7620 setelah Reserve Bank of Australia mempertahankan suku bunga tidak berubah sebesar 0,10%, seperti yang diharapkan pada keputusan kebijakan Januari. Pasangan NZD/USD naik 0,27% ke 0,7175.

Pasangan USD/CNY turun tipis 0,10% di 6,4603. Pasangan GBP/USD menguat 0,14% di 1,3681 pukul 13.28 WIB, dengan keputusan kebijakan Bank of England akan dirilis pada hari Kamis.

Adapun rupiah kembali melemah 0,18% di 14.035,0 per dolar AS sampai pukul 13.00 WIB (USD/IDR).

Sedangkan EUR/USD naik 0,10% di 1,2071 pukul 13.28 WIB setelah berakhir melemah pada perdagangan Senin sebagai reaksi terhadap data mengecewakan dari penjualan ritel Jerman. Penjualan ritel menyusut 9,6% sebulan dan tumbuh 1,5% setahun di bulan Desember, jauh di bawah perkiraan kontraksi 2,6% dan pertumbuhan 5%. Eropa masih merasakan dampak gelombang kedua kasus COVID-19 di benua itu dan juga masih kesulitan dengan program peluncuran vaksin COVID-19.

Gangguan dalam korelasi turun ke euro, dan sentimen pasar akan terus mendorong arah dolar dalam waktu dekat, analis mata uang Commonwealth Bank of Australia Joseph Capurso mengatakan kepada Reuters.

“Ketika orang berpikir tentang menjual euro, selalu Anda mendapat sedikit pembelian dolar, karena nilai tukar euro-dolar bisa dengan mudah menjadi yang paling likuid di dunia,” tambah Capurso.

Sentimen global tetap hati-hati keseluruhan, lantaran investor masih mencerna volatilitas pasar minggu sebelumnya yang dipicu oleh hiruk pikuk ritel di saham-saham seperti GameStop Corp (NYSE:GME). Investor juga mengevaluasi apakah aksi jual hampir 7% pada tahun 2020 atas ekspektasi pemulihan pandemi global di tengah belanja fiskal besar-besaran dan kebijakan moneter ultra-longgar yang berkelanjutan, akan berlanjut pada tahun 2021.

Di AS, sentimen investor didorong setelah pertemuan dua jam yang “sangat produktif” pada hari Senin antara Presiden AS Joe Biden dan sepuluh senator Republik untuk membahas paket stimulus COVID-19 yang jumlahnya dikurangi.

Namun, Biden menyatakan bahwa paket yang diusulkan oleh kelompok tersebut tidak cukup untuk menyelesaikan krisis COVID-19 dan bersikukuh untuk mempertahankan jumlah anggaran senilai $1,9 triliun yang ia usulkan pada bulan Januari. Anggota parlemen Demokrat juga mengajukan nilai anggaran $1,9 triliun pada hari Senin dan langkah ini bisa melewati persetujuan Partai Republik untuk disahkan di Kongres AS menjelang pertemuan tersebut.

Source : investing.com