Dolar AS menguat pada Selasa (12/05) pagi. Penguatan dolar ini didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS dan meningkatnya permintaan safe-haven di tengah kekhawatiran potensi gelombang kedua covid-19 sehingga memberi tekanan pada mata uang berisiko.

Sampai pukul 10.19 WIB menurut data Investing.com, AUD/USD turun 0,66% di 0,6445 dan NZD/USD melemah 0,18% di 0,6068.EUR/USD turun 0,04% di 1,0802 dan GBP/USD juga turun 0,14% di 1,2318. USD/JPY melemah 0,26% ke 107,37.

Sementara rupiah melemah 0,49% ke 14.967,5 terhadap dolar AS.

US Dollar Index naik 0,07% di 100,345 pukul 10.34 WIB.

Greenback didorong naiknya kurva imbal hasil obligasi AS sebagaimana dilansir Reuters Selasa (12/05) pagi karena para pejabat Federal Reserve membicarakan prospek suku bunga negatif dan pasar obligasi bersiap mendapat dorongan dari langkah peminjaman utang Departemen Keuangan AS.

Pada saat yang sama, kemajuan rencana pembukaan kembali ekonomi telah dibayangi oleh kekhawatiran potensi infeksi baru covid-19 di mana pelonggaran tindakan pembatasan di Korea Selatan dan Jerman kembali memunculkan pertambahan kasus-kasus baru di negara tersebut.

Dolar telah menjadi tempat penghindaran risiko investor selama krisis covid-19. Namun, imbal hasil obligasi bertenor panjang pun kembali naik yang disebabkan tindakan Washington bersiap meminjam sekitar $3 triliun pada kuartal ini.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik di atas 0,7% untuk pertama kalinya dalam sepekan semalam dan bertahan di level 0,7099% di Asia, sementara imbal hasil dua tahun juga naik setelah Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan ia “bukan penggemar” dari tingkat suku bunga negatif.

Source : investing.com