Dolar Naik Tipis Data Pekerjaan AS Mengecewakan, Fokus Beralih ke Inflasi

Dolar Amerika Serikat bergerak naik pada Senin (12/18) siang di Asia tetapi tetap mendekati level terendah lebih dari dua bulan. Investor terus meninjau laporan ketenagakerjaan AS yang mengecewakan minggu lalu dan implikasinya terhadap kebijakan moneter menjelang rilis data inflasi pada pekan ini.

Indeks dolar AS naik tipis 0,01% ke 90,225 pukul 12.19 WIB menurut data Investing.com.

Pasangan USD/JPY naik 0,21% ke 108,83. AUD/USD naik tipis 0,10% di 0,7850. Data Australia yang dirilis sebelumnya mengatakan bahwa Indeks Keyakinan Bisnis National Australia Bank (NAB) naik ke angka yang lebih baik dari perkiraan 26 di bulan April. Namun, penjualan ritel tumbuh 1,3% bulan ke bulan di bulan Maret, sedikit di bawah ekspektasi. NZD/USD naik tipis 0,08% di 0,7279.

Pasangan USD/CNY turun tipis 0,01% menjadi 6,4301, menjelang data inflasi China yang akan dirilis pada hari Selasa.

Pasangan GBP/USD naik 0,54% di 1,4048 pukul 12.23 WIB. Pound terus berada di atas angka 1,4 bahkan setelah Menteri Pertama Skotlandia Nicola Sturgeon mengatakan referendum kemerdekaan lainnya tidak dapat dihindari setelah Partai Nasional Skotlandia-nya meraih kemenangan gemilang dalam pemilihan umum minggu lalu.

Di Indonesia, rupiah terus menguat 0,51% di 14.206,5 pukul 12.28 WIB.

Laporan ketenagakerjaan AS hari Jumat untuk bulan April mengecewakan, di mana gaji pekerja non pertanian AS hanya naik sebesar 266.000 selama sebulan, jauh di bawah perkiraan kenaikan 978.000 yang disiapkan oleh Investing.com. Tingkat pengangguran juga naik ke 6,1% lebih tinggi dari perkiraan di bulan April.

Dengan ekspektasi bahwa pemulihan ekonomi dari COVID-19 akan menyebabkan peningkatan inflasi, investor sekarang menunggu pengumuman data inflasi, termasuk Indeks Harga Konsumen Inti yang akan dirilis pekan ini.

Beberapa pejabat Federal Reserve AS, yakni Presiden Fed Chicago Charles Evans dan Gubernur Fed AS Lael Brainard pada hari Selasa, juga akan menyampaikan pandangannya sepanjang minggu ini.

Beberapa investor tetap pesimis karena indeks dolar merosot ke level 90,128 untuk pertama kalinya sejak 26 Februari.

“Tren penurunan dolar yang berombak dapat berlanjut minggu ini,” ahli strategi Commonwealth Bank of Australia Kim Mundy menulis dalam catatan kliennya.

Pemulihan lambat yang tak terduga di pasar tenaga kerja AS memperkuat pendekatan sabar FOMC terhadap kebijakan moneter,” di saat “membaiknya prospek ekonomi global adalah beban jangka menengah pada dolar,” tambah catatan itu, memprediksi penembusan di atas $1,22 untuk euro.

EUR/USD naik tipis 0,05% di 1,2157 pukul 12.28 WIB, sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 26 Februari di $1,2177.

Seputar cryptocurrency, dogecoin diperdagangkan mendekati angka $0,56. Mata uang virtual ini kehilangan lebih dari sepertiga dari harganya pada hari Minggu setelah CEO Tesla Inc. Elon Musk menyebutnya sebagai “keramaian” ketika ia menjadi pembawa acara acara TV “Saturday Night Live”.

“Musk kemungkinan senang untuk melontarkan lelucon tentang apa itu meme (koin), tetapi investor mungkin merasakan sakit yang nyata sekarang,” kata kepala Penjualan Bursa Diginex Justin d’Anethan kepada Reuters.

“Pasokan pada dasarnya tidak terbatas untuk dogecoin, dan sangat tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Ini adalah pertanyaan siapa yang akan menjual lebih dulu dan siapa yang tersisa memegang tas,” tambahnya.

Source : id.investing.com