Seberapa dalam harga minyak dapat jatuh?

Harga minyak mentah jatuh hingga 16% dalam sepekan menyusul anjloknya bursa saham global dan ini merupakan tingkat pelemahan mingguan terbesar sejak masa krisis ‘Resesi Hebat’ yang dimulai pada tahun 2008. Ini sudah diketahui pasar.

Tetapi para analis yang melihat pembantaian pasar oleh epidemi virus covid-19 memperingatkan bahwa dampaknya bisa menjadi jauh lebih buruk bagi minyak dan aset berisiko lainnya sebelum berubah menjadi lebih baik.

Jadi, akankah harga minyak mentah turun ke $40 per barel? $30? Atau bahkan lebih rendah?

Konfirmasi kematian pertama warga Amerika oleh virus ini diperkirakan akan membebani pasar AS lebih lanjut untuk sepekan ke depan – di tengah laporan Rusia masih ragu terhadap pemotongan produksi yang diperlukan oleh OPEC+ – sulit untuk membayangkan aksi jual minyak berakhir.

Namun, tren bearish minyak dapat mengambil manfaat dari langkah hati-hati ini. Di saat minyak anjlok sebesar 25% tahun ini, dua pertiga dari aksi jual itu terjadi hanya dalam waktu lima hari terakhir. Intensitas kejatuhan ini menunjukkan bahwa beberapa aksi pembelian kembali – jika tidak, setidaknya memperlambat penurunan – dapat terjadi.

Jika bukan karena lonjakan teknikal dari kondisi jenuh jual, harga minyak mentah masih bisa mencapai beberapa level support sepekan mendatang dari tindakan blokade minyak di Irak dan juga potensi sejumlah data positif lain dari Badan Informasi Energi (EIA) AS.

Mungkin ada juga jawaban reaksi OPEC. Kelompok minyak internasional ini akan mengadakan pertemuan pada pekan ini, akan menjadi tindakan teledor bagi Arab Saudi dan anggota OPEC lainnya tidak membicarakan tentang keadaan pasar – terlepas dari seberapa banyak pemotongan yang akhirnya mereka setujui dengan negara mitra utama Rusia. Seperti Herman Wang dan Andrew Critchlow dari layanan media energi Platts memperingatkan minggu lalu, “kegagalan untuk mencapai kesepakatan dapat menempatkan seluruh pakta OPEC+ berada dalam risiko”.

EIA akan menerbitkan laporan permintaan-penawaran mingguannya pada hari Rabu. OPEC mengadakan pertemuan khusus anggota pada hari Kamis dan berbicara dengan Rusia serta negara mitra lainnya pada hari Jumat. Ada potensi data positif selama tiga hari berturut-turut dan catatan peluang yang bisa menambah harga $1- $2 per barel, mungkin lebih.

Perkembangan besar lainnya yang dapat memberikan perangsang harga adalah pengumuman pada hari Jumat oleh Ketua Federal Reserve Jay Powell bahwa bank sentral AS terus memantau risiko virus terhadap Amerika Serikat, dan akan menggunakan “alat yang tepat” untuk mendukung ekonomi – tanda paling jelas namun mengindikasi penurunan suku bunga akan datang.

Siklus pelonggaran terakhir The Fed berakhir pada bulan Desember 2019 setelah selama tiga bulan memotong suku bunga masing-masing sebanyak 25 basis poin.

Bank of America (NYSE:BAC) mengatakan pihaknya memperkirakan penurunan 50 basis poin dalam pertemuan Fed berikutnya pada 17-18 Maret. Goldman Sachs (NYSE:GS) melihat setidaknya dua pemotongan lagi hingga Juni.

Meskipun positif, masih ada kemungkinan bahwa ketakutan akan virus covid-19 terbukti menjadi faktor yang lebih besar pada sepekan ini, terutama jika ada lonjakan infeksi AS atau kematian. Kemudian Wall Street bisa jatuh lebih dalam dari tingkat selama terjadi krisis keuangan. Pada saat itu, pertanyaan yang valid untuk ditanyakan adalah berapa banyak lagi harga minyak turun?

Setelah menetapkan level WTI di $43,85 pada minggu lalu, sasaran berikutnya untuk patokan minyak mentah AS akan berada di bawah level terendah Desember 2018 di $42,36. Pada penyelesaian hari Jumat di $44,76, kita bisa melihat kerugian lebih dari $2 per barel.

Untuk Brent, yang turun ke $48,95, level terendah baru untuk dikalahkan akan ada di level bawah Malam Natal 2018 di $49,93. Mengingat penutupan Jumat $49,67, patokan minyak mentah global ini akan perlu kehilangan lebih dari $1 untuk mencapai level terendah baru, kendati tidak ada yang tahu berapa banyak harga minyak bisa benar-benar tenggelam jika melewati ambang level itu.

Dalam kasus emas, ekspektasinya adalah safe-haven favorit semua orang akan bertindak seperti yang diharapkan dalam seminggu ini untuk memberikan investor lindung nilai perlindungan dari efek pandemi.

Tatkala pasar saham dunia jatuh dan terbakar pada hari Jumat silam, emas adalah satu-satunya aset yang seharusnya melindungi investor tetapi gagal juga.

Emas berjangka dan harga emas spot masing-masing turun tak diduga lebih dari 3% akibat langkah investor dana lindung nilai menguangkan keuntungan yang didapat sebelumnya pada logam kuning ini untuk menutupi kerugian di tempat lain.

Posisi margin call yang lebih besar pada perdagangan emas juga menggoyahkan para buyer emas di pasar.

Dari level tertinggi nyaris $1.700 per ons pada awal pekan lalu, emas berakhir di bawah $1.560. Ekspektasi lonjakan untuk sepekan ini bisa mengembalikan emas di atas $1.600.

Tinjauan Energi

Minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate, ditutup turun $2,33, atau sebesar 5%, di $44,76 per barel, tingkat terendah sejak Desember 2018. Selama seminggu, WTI turun 16%, level tertinggi seminggu sejak 14 Desember 2008 – era yang melahirkan masa Resesi Hebat.

Minyak mentah acuan global di London, Brent, ditutup turun 2,51, atau 4,8%, di $49,67 per barel, menembus level support kunci $50. Sesi terendah Brent di $48,95 juga merupakan tingkat terendah Juli 2017. Untuk sepekan lalu, Brent anjlok 15%.

Harga minyak mentah anjlok akibat jatuhnya bursa saham di Wall Street. S&P 500 turun sebesar 13% dalam seminggu, menuju pelemahan mingguan terburuk sejak Oktober 2008. Dalam logam mulia, emas jatuh 3,5% setelah posisi margin call yang lebih tinggi dikenakan bagi trader emas dan aksi penjualan oleh dana lindung nilai untuk menutupi kerugian di tempat lain.

Moody’s Analytics mengatakan pihaknya memperkirakan ekonomi AS akan tumbuh dengan tingkat tahunan 1,3% pada kuartal pertama, turun 0,6% akibat virus covid-19. Pertumbuhan untuk semua tahun 2020 terlihat di angka 1,7%, atau turun sebesar 0,2%.

Trader minyak mentah sekarang menunggu untuk melihat apakah aliansi OPEC+ dari produsen minyak – yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia – dapat menyetujui pemotongan produksi global lebih dari satu juta barel per hari untuk menghentikan kejatuhan pasar pada pekan ini.

Kalender Energi ke Depan

Senin, 2 Maret

Data Genscape mengenai perkiraan pasokan minyak di Cushing

Selasa, 3 Maret

Laporan mingguan persediaan minyak American Petroleum Institute.

Rabu, 4 Maret

Laporan mingguan stok minyak dari EIA.

Kamis, 5 Maret

Laporan mingguan gas alam EIA

Pertemuan OPEC

Jumat, 6 Maret

Jumlah rig mingguan dari Baker Hughes.

Pertemuan OPEC+

Tinjauan Logam Mulia

Emas berjangka COMEX untuk penyerahan April di New York berakhir turun $57,50, atau sebesar 3,5%, di $1,585 per ons, jatuh dari level kunci $1.600. Patokan waktu terakhir emas berjangka ini kehilangan nilainya cukup besar dalam waktu sehari adalah pada Februari 2018 silam ketika harga anjlok 4,6%. Untuk sepekan, kontrak emas ini jatuh sebesar 3,7%. Tetapi untuk sebulan, emas berhasil bergerak datar dan positif.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, berada di $1.585,55, turun sekitar 3,5% atau lebih dalam sehari dan seminggu dan sekitar 0,3% lebih rendah pada bulan tersebut.

Emas menjadi tempat berlindung yang aman bagi mayoritas investor selama sebulan terakhir karena gejolak krisis virus covid-19. Awal pekan lalu, logam kuning ini mencapai titik tertinggi tujuh tahun sedikit lagi ke $1.700 – meningkatkan harapan bahwa mungkin ada kesempatan di tahun ini untuk memecahkan rekor tertinggi ke $1.900.

Namun selama empat sesi terakhir, emas berjangka dan emas fisik turun ke zona merah, sebelum akhirnya jatuh pada hari Jumat lalu. Dua alasan dikutip oleh para analis: posisi margin call yang lebih tinggi dikenakan pada trader emas dan aksi penjualan oleh dana lindung nilai untuk menutupi kerugian di tempat lain.

“Mengapa emas tidak mencapai $1.700? Itu karena dana lindung nilai tidak ingin kinerja Februari membawa bencana dan perlu menjual posisi emas yang untung untuk menutupi kerugian pada kepemilikan saham-saham mereka,” tegas Ed Moya di platform perdagangan daring OANDA yang berbasis di New York.

Alasan lain yaitu karena posisi margin call yang lebih tinggi yang dikenakan pada trader emas, yang berarti “mereka membutuhkan uang tunai untuk tinggal atau mereka harus pergi”, kata George Gero, direktur pelaksana RBC Wealth Management.

Namun, ada harapan bahwa setelah goncangan pada hari Jumat, emas akan berusaha untuk kembali ke $1.600.

“Emas harus mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan terlepas dari apa yang (pergerakan) saham-saham lakukan selama beberapa minggu ke depan,” ungkap Moya dari OANDA. “Jika penjualan panik pada saham-saham berlanjut sepekan ke depan, emas kemungkinan akan menegaskan kembali statusnya (sebagai) safe-haven atau jika pasar menunjukkan tanda-tanda stabil, kita bisa melihat pelemahan komoditas berbasis luas ini mereda.”

Source : investing.com