https: img.okezone.com content 2021 03 09 320 2374637 harga-emas-berjangka-anjlok-hingga-1-vBRPz2RKbm.jpg

Harga emas merosot lagi lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), terperosok ke level terendah sejak April 2020 dan memperpanjang penurunan untuk hari keempat beruntun, tertekan dolar dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang terus meningkat, mendorong investor membuang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di Divisi COMEX New York Exchange, anjlok lagi USD20,5 atau 1,21% menjadi ditutup pada USD1.678 per ounce. Akhir pekan lalu, Jumat (5/3/2021), emas berjangka turun USD2,2 atau 0,13% menjadi USD1.698,5 per ounce.

Emas berjangka merosot USD15,10 atau 0,88% menjadi USD1.700,70 pada Kamis (4/3/2021), setelah terpangkas USD17,8 atau 1,03% menjadi USD1.715,80 pada Rabu (3/3/2021), dan terangkat USD10,6 atau 0,62% menjadi USD1.733,60 pada Selasa (2/3/2021).

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, melonjak ke tertinggi tiga bulan, sementara imbal hasil obligasi Pemerintah AS 10-tahun bertahan di dekat level tertinggi lebih dari satu tahun, meningkatkan peluang kerugian memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

“Kami memiliki ekonomi yang sedang pulih dan inflasi sedang terwujud; yang pada akhirnya berarti imbal hasil memiliki ruang untuk bergerak lebih tinggi,” kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas di TD Securities, menambahkan bahwa emas bisa jatuh ke bawah USD1.660.

Melek juga mencatat bahwa lonjakan tak terduga dalam data penggajian (payrolls) non pertanian AS dan pasar saham yang kuat lebih merupakan cerminan dari ekonomi yang membaik dan bukan inflasi yang “sangat tinggi”.

Emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Persetujuan Kongres AS atas rencana bantuan COVID-19 senilai 1,9 triliun dolar AS dari Presiden Joe Biden gagal membuat logam tetap bertahan.

Para analis juga mengatakan kegagalan Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell untuk mengatasi lonjakan imbal hasil AS pekan lalu semakin menekan emas.

Meskipun pasar belum mendapat banyak tekanan balik dari Fed pada imbal hasil, sedikit keraguan bahwa Fed tidak akan bertindak pada akhirnya dan dengan kenaikan suku bunga tidak mungkin tahun ini, itu akan mendukung emas, kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA.

Tetapi dalam waktu dekat emas bisa diperdagangkan antara 1.650 dolar hingga 1.700 dolar AS, dengan pergerakan di bawah 1.650 dolar AS kemungkinan akan mengundang beberapa tekanan jual, katanya pula.

Reflektif sentimen, kepemilikan SPDR Gold Trust, exchange-traded fund/ETF (reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek) yang didukung emas terbesar di dunia, jatuh ke level terendah 10-bulan pada Jumat (5/3/2021).

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei turun 1,8 sen atau 0,07% menjadi ditutup pada USD25,269 per ounce. Platinum untuk pengiriman April terangkat USD24 atau 2,13% menjadi menetap di USD1.152,3 per ounce.

Source : okezone.com