Harga emas bergerak melemah pada Rabu (27/05) pagi ini. Aksi jual logam kuning ini terjadi akibat kenaikan dolar Amerika Serikat dan penguatan bursa AS di Wall Street. 

Pada pukul 09.49 WIB, Emas Berjangka turun 0,11% di $1.703,80 per ons setelah kemarin ditutup turun 1,26% di 1.705,25 dan emas spot XAU/USD turun tipis 0,01% ke $1.710,60. Sementara US Dollar Index menguat 0,26% di 99,160 dan indeks S&P 500 berjangka naik 0,27% di 3.002,62. 

Sedangkan indeks Dow Jones ditutup melonjak 2,17% di 24.995,11.

Menurut MarketWatch sebagaimana dilansir Kitco Rabu (27/05) pagi, “emas berjangka berakhir melemah pada hari Selasa ketika ekuitas global menguat, dalam menanggapi pencabutan penutupan usaha karena menurunnya pandemi covid-19, bersama dengan laporan kemajuan vaksin COVID-19 dan ini mengurangi daya tarik logam kuning tersebut.”

Penguatan bursa AS mendorong investor kembali fokus pada tanda-tanda positif dan optimisme dari pelonggaran pembatasan di Amerika Serikat.

Berdasarkan studi teknikal, emas berjangka menembus di bawah level kritis. Pertama level Fibonacci retracement 23,6% di $1709,40. Lebih penting lagi menembus di bawah trendline support berdasarkan posisi terendah sebelumnya sejak pertengahan April hingga penetapan harga saat ini.

Meski begitu, perlu dicatat bahwa emas berjangka bertahan di atas level psikologis kunci $1700, dan pada kenyataannya itu adalah level terendah harian. Namun, jika level ini tidak mampu menahan maka level support berikutnya akan ada di $1660 per ons, level Fibonacci retracement 38,2%. Level Fibonacci yang dikutip di atas didasarkan pada kumpulan data yang dimulai pertengahan Maret ketika emas diperdagangkan pada $1450 per ons, hingga level tertinggi tahun ini di $1788.

Di tanah air hingga pukul 08.19 WIB Rabu pagi (26/05) ini, harga emas Antam (JK:ANTM) per gram turun Rp8.000 dari Selasa kemarin menurut laman Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia. Kemarin emas Antam mencapai harga Rp917.000 dan harga terakhir kini turun ke Rp909.000.

Source : investing.com