Harga minyak dunia naik tipis pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat pagi WIB) karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan tanda-tanda membaiknya hubungan perdagangan AS-China. Namun, penguatan dolar AS membatasi kenaikan harga.

Melansir Reuters, Jakarta, Jumat (3/1/2020), harga minyak Brent berjangka ditutup naik 25 sen ke menjadi USD66,25 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 12 sen menjadi USD61,18.

Tercatat, pada awal tahun 2020 dolar AS naik sekitar 0,5%, pulih dari level terendah enam bulan setelah Desember yang suram membuat indeks hampir tidak berubah untuk 2019. Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Di sisi lain, kekhawatiran bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat menekan pasokan melebihi langkah dalam indeks dolar.

Sementara itu, Parlemen Turki sangat menyetujui RUU yang memungkinkan pengerahan pasukan di Libya, membuka jalan bagi kerja sama militer lebih lanjut antara Ankara dan Tripoli. Tidak mungkin untuk segera meletakkan sepatu bot di tanah.

Selama akhir pekan, militer AS melakukan serangan udara terhadap kelompok milisi Kataib Hezbollah yang didukung Iran. Para pengunjuk rasa yang marah kemudian menyerbu Kedutaan Besar AS di Baghdad pada hari Rabu, meskipun mereka mundur setelah Amerika Serikat mengerahkan pasukan tambahan.

Pada hari Kamis, Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan ada indikasi Iran atau pasukan yang didukungnya mungkin merencanakan serangan tambahan.

“Saya pikir semua orang sadar akan apa yang terjadi di Timur Tengah dengan Irak dan Libya,” kata mitra di Again Capital di New York John Kilduff.

Tumbuhnya optimisme bahwa gencatan senjata perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia akan mendukung permintaan energi juga mendukung minyak. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada 15 Januari akan menandai penandatanganan kesepakatan perdagangan AS-China Tahap 1.

Pada bulan ini juga menandai dimulainya pemangkasan produksi yang lebih dalam oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan para mitranya, termasuk Rusia.

Kelompok itu sepakat untuk memangkas produksi hingga 500.000 barel per hari (bph) mulai 1 Januari, di atas penurunan sebelumnya sebesar 1,2 juta barel per hari.

Source : okezone.com