Harga Minyak Mentah Dunia Menanjak Saat Timur Tengah Memanas

Harga minyak mentah dunia menanjak naik ke level tertinggi lebih dari satu tahun pada perdagangan awal pekan, Senin (15/2/2021). Hal ini setelah Saudi yang merupakan pimpinan koalisi bertarung di Yaman mengatakan, pihaknya mencegat drone bermuatan bahan peledak yang ditembakkan oleh kelompok Houthi yang selaras dengan Iran.

Hal itu berpotensi meningkatkan ketegangan di Timur Tengah . Harapan untuk lebih banyak stimulus AS dan pelonggaran lockdown virus corona membantu mendukung reli, setelah harga menguat sekitar 5% pekan lalu.

Seperti dilansir Reuters hari ini, harga minyak mentah Brent naik 66 sen atau 1,1% pada level USD63,09 per barel. Pada sesi sebelumnya naik ke sesi tertinggi di posisi USD63,44/barel sejak 22 Januari 2020.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS memperoleh tambahan 86 sen atau setara 1,5% menjadi USD60,33 per barel. Pada sesi kemarin, sempat sentuh level tertinggi sejak Januari 8 tahun lalu yakni pada posisi USD60.77/barel.

Koalisi pimpinan Saudi yang bertarung di Yaman mengatakan, akhir Minggu kemarin telah mencegat dan menghancurkan drone bermuatan bahan peledak yang ditembakkan oleh kelompok Houthi yang selaras dengan Iran.

“Lonjakan awal pasar minyak dipicu oleh berita,” kata Kazuhiko Saito, kepala analis di broker komoditas Fujitomi Co.

“Tetapi reli ini juga didorong oleh meningkatnya harapan bahwa stimulus AS dan pelonggaran lockdown akan mendorong ekonomi dan permintaan bahan bakar,” ungkapnya.

WTI bisa balik kembali dengan profit-taking karena mencapai level kunci USD60. Presiden AS Joe Biden mendorong kesepakatan legislatif besar pertama pada masa jabatannya di hari Jumat. Beralih ke kelompok bipartisan pejabat lokal untuk meminta bantuan pada rencana bantuan virus corona senilai USD1,9 triliun.

Harga minyak juga telah menurun selama beberapa minggu terakhir karena pengetatan persediaan, sebagian besar karena pemotongan produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dan sekutunya dalam kelompok yang disebut OPEC +.

Source : sindonews.com