Harga minyak mentah koreksi 0,8% setelah persediaan minyak AS membengkak

Harga minyak kembali melemah setelah data industri menunjukkan persediaan minyak Amerika Serikat lebih besar dari pada yang diperkirakan pada pekan lalu. Hal ini semakin menekan pergerakan emas hitam yang sudah mendapat paparan negatif dari lonjakan kasus virus corona yang berpotensi mengurangi permintaan dari konsumen minyak terbesar di dunia itu.

Rabu (22/7) pukul 09.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent kontrak pengiriman September 2020 turun 32 sen, atau 0,7% menjadi US$ 44 per barel. 

Setali tiga uang, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman September 2020 pun melemah 33 sen atau 0,8% ke level US$ 41,59 per barel.

Padahal, kedua harga minyak mentah acuan ini naik sekitar US$ 1 di sesi sebelumnya dan mencapai tertinggi sejak 6 Maret 2020.

Laporan dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menyebutkan, persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam naik sebesar 7,5 juta barel di pekan lalu. Padahal hasil survei Reuters memperkirakan, adanya penurunan persediaan minyak hingga 2,1 juta barel di pekan yang berakhir 17 Juli tersebut. 

Tekanan bagi harga minyak bertambah setelah dalam briefing pertamanya dalam beberapa bulan yang berfokus pada pandemi, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa wabah itu mungkin akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik, salah satu pengakuannya yang terbaru tentang penyebaran masalah ini.

“Rally minyak mentah menghantam dinding tebal setelah laporan API menunjukkan kenaikan tajam dalam stok dan pada peringatan Presiden Trump bahwa pandemi virus coorna di AS kemungkinan akan memburuk,” kata Edward Moya, Senior Market Analyst OANDA di New York.

Sementara itu, laporan resmi dari pemerintah yang dikeluarkan Energy Information Administration (EIA) baru akan dirilis hari ini, waktu setempat. 

Data ekonomi dari Jepang, konsumen minyak terbesar keempat di dunia, juga menekan harga. Aktivitas pabrik yang dikontrak selama 15 bulan berturut-turut pada bulan Juli, menunjukkan aktivitas ekonomi yang lebih rendah karena pandemi ini meluas ke kuartal ketiga.

Sebelumnya, harga minyak mendapat angin segar dan menguat di tengah optimisme untuk vaksin Covid-19 dan setelah Uni Eropa sepakat memberikan stimulus € 750 miliar setara US$ 859 miliar untuk menopang ekonomi yang terdampak virus corona.

Namun, Stephen Innes, Chief Global Markets Strategist AxiCorp bilang, efek stimulus tersebut pada harga minyak tidak akan langsung terasa karena mungkin butuh berbulan-bulan untuk mulai mengalir dan dampaknya baru terlihat bertahun-tahun ke depan. 

Ada juga tanda-tanda bahwa Irak, produsen terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), masih belum memenuhi targetnya berdasarkan kesepakatan pengurangan pasokan yang dipimpin OPEC.

Ekspor Irak Selatan dalam 20 hari pertama bulan Juli rata-rata 2,70 juta barel per hari, menurut data dari Refinitiv Eikon dan dua sumber industri, sama dengan data resmi untuk ekspor di semua Juni.

Source : kontan.co.id