Harga minyak mentah naik lebih dari 2%, Brent kembali ke atas US$ 40 per barel

Harga minyak mentah acuan kembali menguat lebih dari 2% pada perdagangan hari ini. Sentimen positif datang dari data industri yang menunjukkan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat (AS) turun tajam. Di sisi lain, investor juga menunggu hasil dari pemilihan presiden AS yang penuh gejolak.

Rabu (4/11) pukul harga minyak mentah jenis Brent kontrak pengiriman Januari 2021 naik 92 sen atau 2,3% ke US$ 40,63 per barel. Pada sesi sebelumnya, Brent sudah menanjak 3%.

Serupa, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Desember 2020 naik 92 sen atau 2,4%, menjadi US$ 38,58 per barel. Pada Selasa (3/11), harganya juga melesat lebih dari 2%.

Penguatan harga minyak di pekan ini terjadi setelah di pekan lalu harganya jatuh lebih dari 10%. Hal tersebut terjadi setelah kasus virus corona di seluruh dunia kembali meningkat dan membuat sejumlah negara melakukan pembatasan pergerakan yang akhirnya melukai prospek permintaan minyak.

Namun, harga minyak WTI sudah hampir menutup kerugian yang terjadi di pekan lalu dengan keuntungan tiga hari di pekan ini jelang pemilihan umum presiden AS.

“Tetapi tetap saja, pasar berhati-hati menjelang pemilihan presiden AS,” kata ANZ Research dalam sebuah catatan.

“Kedua pesaing memiliki platform kebijakan energi yang berbeda secara signifikan, hal tersebut dapat mempengaruhi permintaan minyak mentah,” kata ANZ. 

Lebih lanjut ANZ memperkirakan jika Joe Biden memenangi pemilu kali ini, hal tersebut akan membebani harga minyak mentah dalam jangka menengah.

Namun untuk saat ini, harga minyak masih mendapat angin segar setelah stok minyak mentah AS turun tajam pada pekan lalu. Data American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah AS turun 8 juta barel menjadi sekitar 487 juta barel.

Hasil tersebut kontras dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan ada kenaikan stok sebanyak 890.000 barel. 

Katalis yang ikut mendukung harga datang setelah anggota OPEC, Aljazair, mendukung penundaan rencana peningkatan produksi minyak OPEC+ mulai Januari dan menteri energi Rusia meningkatkan prospek tersebut setelah berbicara dengan produsen minyak negara tersebut.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, akan mengurangi pemotongan 7,7 juta barel per hari (bph) sekitar 2 juta barel per hari mulai Januari.

Sumber mengatakan OPEC dan Rusia sedang mempertimbangkan pengurangan produksi yang lebih besar tahun depan untuk mendukung harga.

Penguatan minyak juga masih dibatasi oleh penguncian yang dilakukan sejumlah negara Eropa. Terbaru datang dari Italia, Norwegia dan Hongaria yang ikut memperketat pembatasan guna menghambat penyebaran Covid-19. Hal ini mengikuti Inggris, Prancis, dan negara-negara lain yang sudah lebih dahulu melakukannya.

Source : kontan.co.id