Harga minyak kembali naik akibat krisis geopolitik Amerika Serikat (AS)-Iran. Harga minyak menyentuh level tertinggi sejak akhir April 2019.

Senin (6/1) pukul 7.05 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 63,80 per barel, naik 1,19% ketimbang posisi akhir pekan lalu. Padahal, Jumat lalu harga minyak WTI sudah naik 3,06% dalam sehari.

Sejalan, harga minyak brent untuk pengiriman Maret 2020 di ICE Futures menguat 1,34% ke US$ 69,52 per barel. Jumat lalu, harga minyak acuan internasional ini sudah naik 3,55%.

“Risiko eskalasi lebih lanjut jelas naik mengingat serangan langsung ke Iran. Ancaman pembalasan Iran dan keinginan Trump untuk terlihat tegas menjadi ancaman sehingga harga minyak naik,”  kata Shane Oliver, chief economist AMP Capital kepada Reuters.

Oliver mengatakan, secara historis, harga minyak perlu naik dua kali lipat untuk menunjukkan ancaman bagi pertumbuhan ekonomi global. “Dan kita masih jauh dari itu,”  kata dia.

Ketegangan antara AS dan Iran meningkat secara dramatis pada hari Jumat setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pembunuhan komandan militer Iran Qassem Soleimani.

Serangan di Bandara Internasional Baghdad juga menewaskan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil komandan milisi yang didukung Iran yang dikenal sebagai Pasukan Mobilisasi Populer (PMF).

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dengan cepat berjanji untuk melakukan balas dendam atas pembunuhan Soleimani.

Trump dan pejabat AS telah membela langkah itu, dengan mengatakan itu adalah pertahanan diri. Kemarin, Trump mengatakan akan menyerang 52 lokasi jika Iran membalas serangan. Iran semalam mengumumkan tidak akan membatasi pengayaan uranium.

Source : kontan.co.id