Harga Minyak Naik, Investor Prediksi Ada Penurunan Lanjutan Stok AS

Harga minyak naik pada Selasa (13/07) pagi di Asia. Cairan hitam memperoleh kembali beberapa keuntungan dari kerugian hari Senin menjelang data pasokan minyak mentah dari American Petroleum Institute (API) dan investor memperkirakan penurunan lanjutan dalam persediaan.

Harga minyak Brent naik 0,27% di $75,36 per barel pukul 11.25 WIB dan harga minyak WTI naik 0,32% di $74,34 per barrel menurut data Investing.com.

“Optimisme mengenai pasokan yang ketat dan penurunan stok minyak mentah AS memberikan dukungan,” analis Fujitomi Co. Toshitaka Tazawa mengatakan kepada Reuters, menambahkan saham global yang bullish juga membantu meningkatkan minat risiko di kalangan investor.

“Namun, kekhawatiran yang berkembang atas lonjakan kasus infeksi COVID-19 di seluruh dunia dan ketidakpastian atas rencana produksi oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) kemungkinan akan membatasi kenaikan,” tambahnya.

Investor terus memantau kemajuan OPEC+ dalam menyelesaikan sengketa harga antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Perselisihan tersebut menghambat kelompok ini mencapai kesepakatan untuk meningkatkan produksi minyak mulai Agustus 2020 dan seterusnya. Dan, pertemuan kebijakan lain dalam seminggu ini dilaporkan kemungkinan tidak terjadi.

Investor sekarang menunggu data pasokan minyak mentah API, yang akan dirilis hari ini. Persediaan minyak mentah AS telah turun ke level terendah sejak Februari 2020 dalam seminggu hingga 2 Juli berkat penurunan berturut-turut selama beberapa minggu.

Reli saham global dan ekuitas AS ditutup pada level rekor selama sesi sebelumnya juga mendorong sentimen investor.

Tindakan pembatasan baru untuk menahan penyebaran wabah COVID-19 yang melibatkan virus varian Delta di negara-negara seperti Australia dan Korea Selatan juga dapat meredupkan prospek permintaan bahan bakar seiring melambatnya pemulihan ekonomi. Tingkat vaksinasi COVID-19 juga melambat di beberapa negara, sementara yang lain menghadapi situasi kekurangan vaksin seiring perkembangan varian Delta yang menjadi dominan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Source : id.investing.com