Harga Minyak Naik Terus Dibayangi Meningkatnya Pasokan AS & Kasus COVID-19

Harga minyak terus naik pada Kamis (20/05) petang bahkan meski Amerika Serikat meningkatkan pasokan bahan bakarnya. Namun, investor tetap khawatir terhadap lonjakan kasus COVID-19 di beberapa negara Asia.

Harga minyak Brent makin naik 0,42% ke $66,94 per barel pukul 13.31 WIB dan harga minyak WTI terus naik 0,54% di $63,69 per barel menurut data Investing.com.

Data pasokan minyak mentah AS dari Badan Informasi Energi (EIA), yang dirilis pada hari Rabu setempat, menunjukkan peningkatan 1,321 juta barel untuk pekan terakhir 14 Mei. Perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com telah memperkirakan kenaikan 1,623 juta barel, sementara tercatat 427.000 barel penurunan dilaporkan selama minggu sebelumnya.

Data pasokan minyak mentah AS dari American Petroleum Institute (API) yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan peningkatan 620.000 barel yang lebih baik dari perkiraan.

Sementara itu, AS dan Iran hampir menghidupkan kembali kesepakatan nuklir tahun 2015 yang dapat mencabut sanksi dan memberikan dorongan dalam pasokan minyak mentah Iran.

Enrique Mora, pejabat Uni Eropa yang bertugas mengkoordinasikan diplomasi di Wina terkait perundingan nuklir itu, mengatakan ia mengharapkan semua pihak untuk kembali ke meja perjanjian menjelang pemilihan presiden Iran pada 18 Juni. Iran juga akan segera mengekspor produksi minyak mentahnya yang mengalami kenaikan dari terminal Jask di pantai Teluk Oman mulai Juni dan seterusnya, sehingga memungkinkan mereka melewati Selat Hormuz.

Di sisi permintaan, meskipun minyak naik sekitar 30% tahun ini karena pemulihan ekonomi AS berkelanjutan dari COVID-19, China dan sebagian Eropa, kebangkitan kembali kasus COVID-19 di beberapa negara Asia tetap membayangi pasar. Di India, jumlah kasus COVID-19 mencapai 25 juta orang pada 20 Mei, menurut data Universitas Johns Hopkins, dan hampir 66% orang yang dites di negara tersebut menunjukkan terjangkiti COVID-19.

“Meningkatnya kasus COVID-19 di Asia tidak banyak membantu pasar dalam waktu dekat,” tulis ING Economics dalam catatan.

Harga minyak terus naik pada Kamis (20/05) petang bahkan meski Amerika Serikat meningkatkan pasokan bahan bakarnya. Namun, investor tetap khawatir terhadap lonjakan kasus COVID-19 di beberapa negara Asia.

Harga minyak Brent makin naik 0,42% ke $66,94 per barel pukul 13.31 WIB dan harga minyak WTI terus naik 0,54% di $63,69 per barel menurut data Investing.com.

Data pasokan minyak mentah AS dari Badan Informasi Energi (EIA), yang dirilis pada hari Rabu setempat, menunjukkan peningkatan 1,321 juta barel untuk pekan terakhir 14 Mei. Perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com telah memperkirakan kenaikan 1,623 juta barel, sementara tercatat 427.000 barel penurunan dilaporkan selama minggu sebelumnya.

Data pasokan minyak mentah AS dari American Petroleum Institute (API) yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan peningkatan 620.000 barel yang lebih baik dari perkiraan.

Sementara itu, AS dan Iran hampir menghidupkan kembali kesepakatan nuklir tahun 2015 yang dapat mencabut sanksi dan memberikan dorongan dalam pasokan minyak mentah Iran.

Enrique Mora, pejabat Uni Eropa yang bertugas mengkoordinasikan diplomasi di Wina terkait perundingan nuklir itu, mengatakan ia mengharapkan semua pihak untuk kembali ke meja perjanjian menjelang pemilihan presiden Iran pada 18 Juni. Iran juga akan segera mengekspor produksi minyak mentahnya yang mengalami kenaikan dari terminal Jask di pantai Teluk Oman mulai Juni dan seterusnya, sehingga memungkinkan mereka melewati Selat Hormuz.

Di sisi permintaan, meskipun minyak naik sekitar 30% tahun ini karena pemulihan ekonomi AS berkelanjutan dari COVID-19, China dan sebagian Eropa, kebangkitan kembali kasus COVID-19 di beberapa negara Asia tetap membayangi pasar. Di India, jumlah kasus COVID-19 mencapai 25 juta orang pada 20 Mei, menurut data Universitas Johns Hopkins, dan hampir 66% orang yang dites di negara tersebut menunjukkan terjangkiti COVID-19.

“Meningkatnya kasus COVID-19 di Asia tidak banyak membantu pasar dalam waktu dekat,” tulis ING Economics dalam catatan.

Source : id.investing.com