Mata uang Asia kembali menguat Rabu (12/02) pagi setelah terlihat ada tanda-tanda perlambatan penyebaran virus korona. Tetapi pergerakan dolar yang positif dan kehati-hatian terhadap meningkatnya jumlah korban jiwa terus menguat, sementara dolar Selandia Baru melonjak setelah bank sentral negara itu menurunkan peluang bias kebijakan pelonggaran.

Hubei, titik pusat penyebaran wabah virus, melaporkan jumlah terendah infeksi baru sejak 31 Januari pada hari Selasa, hanya 1.068 kasus baru menurut laporan yang dilansir Reuters Rabu (12/02) pagi. Penasihat medis senior Cina juga mengatakan wabah itu mungkin akan berakhir pada bulan April.

Dolar AS, yang telah menyerap aliran safe haven lantaran kekhawatiran dari virus korona bertepatan dengan rilis data yang menunjukkan kekuatan ekonomi AS, melepas kembali beberapa kenaikan.

Dolar Australia, salah satu negara yang paling terekspos secara global terhadap ekonomi Cina yang menjadi pusat ekspor Australia, bertahan satu persen di atas level terendah satu dekade yang dicapai pada hari Senin. Kurs ini menguat tipis 0,2% di $0,6727.

Euro, juga terlihat rentan terhadap perlambatan ekonomi di Cina, naik dari level terendah empat bulan hingga diperdagangkan EUR/USD di $1,0916. Yuan Cina USD/CNY berada di 6,9677 pada perdagangan luar negeri, tepat di bawah level tertinggi satu minggu yang disentuh semalam.

Keduanya telah kehilangan nilai lebih dari 4% terhadap dolar AS tahun ini dan hampir tidak pulih. Yen Jepang, barometer sentimen risiko berdasarkan status safe haven, tetap menguat terhadap mayoritas mata uang utama dan stabil di 109,86 per dolar.

Dolar Selandia Baru melonjak 0,7% ke $0,6458 setelah bank sentral negara mempertahankan suku bunga stabil seperti yang diharapkan, tetapi memperkirakan suku bunga tetap sepanjang tahun dan ini mengurangi kemungkinan pelonggaran kebijakan di masa depan.

Source : investing.com