Minyak melanjutkan penurunannya pada Selasa (28/04) pagi di Asia bahkan saat harga berusaha pulih kembali dari kerugian sesi sebelumnya.

Minyak Brent Berjangka anjlok 2,51% ke $22,49 per barel dan Minyak WTI Berjangka anjlok 15,02% di $10,86 per barel pukul 09.24 WIB menurut data Investing.com.

Pada sesi sebelumnya, WTI berjangka anjlok hampir 25% dan kontrak minyak Brent berjangka jatuh 6,76%. Kerugian ini terjadi setelah perusahaan Dana Minyak Amerika Serikat (USo) mengatakan semalam bahwa mereka akan menjual semua kontraknya untuk penyerahan Juni, menggantikannya dengan kontrak jangka panjang untuk mengantisipasi volatilitas harga minyak.

Investor juga khawatir bahwa WTI berjangka dapat mengulangi perjalanannya ke wilayah negatif Senin pekan lalu ketika kontrak Juni berakhir pada 19 Mei. Lantaran tanpa ada tanda-tanda pemulihan permintaan global dan ruang penyimpanan semakin cepat habis.

Bahkan ketika OPEC+ memulai pengurangan produksi 9,7 juta barel setiap hari yang disepakati pada awal April atau mulai Jumat pekan ini, dan bahkan ketika produsen AS seperti Exxon dan Chevron (NYSE:CVX) setuju mengurangi produksi, menutup sumur minyak akan berbiaya mahal dan memakan waktu cukup lama.

“Pasar tahu bahwa masalah penyimpanan tetap ada, dan kini tangki penyimpanan kami akan segera penuh dalam beberapa minggu,” Bjornar Tonhaugen, kepala pasar minyak di Rystad Energy, mengatakan kepada CNBC.

“Tindakan diperlukan sekarang karena masalah berhenti menjadi sekedar teori dan jauh dari itu. Jam penyimpanan terus berdetak bagi para produsen dan kami mendekati hitungan mundur akhir jika tidak ada tindakan lanjutan yang diambil.”

Source : investing.com