Harga minyak sempat melonjak 6% lebih pada Selasa (10/03) dan berhasil membalik kerugian besar nyaris 25% kemarin (09/03) di tengah harapan tidak berlanjutnya perang harga antara produsen minyak utama Arab Saudi dan Rusia yang memicu kejatuhan harian harga terbesar sejak Perang Teluk 1991.

Pada pukul 09.22 WIB menurut data Investing.com Selasa (10/03) pagi, minyak Minyak Mentah WTI Berjangka AS melonjak 5,36% di $32.80 dan minyak Brent juga melesat 6,20% di $36.49. Sebelumnya Minyak Brent Berjangka sempat naik $2,31, atau sebesar 6,7%, di $36,67 per barel, sementara minyak mentah WTI AS naik $1,79, atau 5,8%, di $32,92 per barel menyusul penurunan hampir 25 persen pada Senin kemarin.

Dari laporan Reuters Selasa (10/03) pagi, produsen minyak serpih AS juga mempercepat tindakan untuk menambah pemotongan pengeluaran dan bisa mengurangi produksi di masa depan setelah keputusan OPEC untuk memompa penuh produksi minyak ke pasar global yang terpukul oleh menyusutnya permintaan karena wabah virus covid-19.

Kedua tolok ukur itu turun ke level terendah sejak Februari 2016 pada sesi sebelumnya dan mencatat persentase penurunan satu hari terbesar sejak 17 Januari 1991. Ketika itu harga minyak turun pada awal Perang Teluk AS.

Volume perdagangan bulan depan untuk kedua kontrak minyak tersebut mencapai rekor tertinggi pada sesi sebelumnya. Hal itu terjadi setelah gagalnya kesepakatan yang telah dijalani selama tiga tahun antara Arab Saudi dan Rusia serta produsen minyak utama lainnya untuk membatasi pasokan Jumat silam.

Source : investing.com