Jelang akhir pekan ini, harga minyak bergerak menguat pada Jumat (08/05) pagi di Asia setelah Arab Saudi juga telah menaikkan harga jual resmi minyaknya meski masih dibayangi oleh kekhawatiran pasokan berlebih.

Pada pukul 09.48 WIB, Minyak Brent Berjangka beranjak naik 1,15% ke $29,80 per barel dan Minyak WTI Berjangka menguat 1,66% di $23,94 per barel.

Kendati kedua minyak acuan bergerak liar selama dua hari ini. Minyak WTI sudah mengantongi keuntungan 21% dalam sepekan ini dan minyak Brent naik 13%.

Beberapa investor bersikap optimis dengan hati-hati terhadap langkah-langkah pelonggaran karantina wilayah di AS yang mendorong meningkatnya permintaan meski lambat tapi stabil di negara ini.

“Tanda-tanda baru permintaan bensin mulai melonjak di AS dan pengurangan cepat produksi minyak dari produsen AS memangkas lebih dari 1 juta barel per hari dalam beberapa minggu telah memungkinkan harga minyak pulih,” John Kilduff dari Again Capital’s mengatakan kepada CNBC .

“Volatilitas akan tetap menjadi penentu, tetapi ada perasaan bertambah bahwa yang terburuk ada di belakang industri ini, untuk saat ini,” tambahnya.

Minyak juga mendapat dorongan dari Arab Saudi yang menaikkan harga jual resmi semalam.

Analis energi Mizuho Paul Sankey mengatakan dalam catatan Kamis keputusan itu “mengurangi tekanan pada harga minyak mentah global. Mereka [Arab Saudi] masih memperjuangkan pangsa pasarnya (terutama melawan Irak/Iran) di Asia tetapi telah mundur dari persaingan pangsa pasar di AS sepenuhnya.”

Sementara itu, investor lain terus memperingatkan bahwa ruang penyimpanan tangki cepat terisi bahkan setelah OPEC+ dan beberapa produsen AS mengurangi produksi. Ruang tangki tersebut diperkirakan akan terisi dalam beberapa minggu ke depan.

Investor juga akan memantau peralihan kontrak WTI berjangka dari bulan Juni ke Juli pada 19 Mei mendatang.

Source : investing.com