Harga minyak lanjut naik pada Selasa (14/04) pasca pertemuan darurat OPEC+ memotong produksi harian sebanyak 9,7 juta barel pada hari Minggu (12/04) dan ini merupakan tingkat pemangkasan produksi minyak terbesar dalam sejarah.

Minyak Brent Berjangka naik 1,64% ke $32,26 per barel pukul 10.33 WIB dan Minyak Mentah WTI Berjangka naik 1,12% di $22,66 per barel.

Pemotongan akan dimulai pada tanggal 1 Mei mendatang, turun menjadi 7,7 juta barel dari bulan Juli hingga akhir tahun. Ini akan lanjut turun menjadi 5,8 juta barel dari Januari 2021 hingga April 2022. OPEC+ dijadwalkan bertemu lagi pada 10 Juni untuk membahas tindakan lanjutan.

Pemotongan tersebut 0,3 juta barel di bawah jumlah pemotongan awal yang diusulkan lantaran Meksiko memprotes jumlah produksi minyak yang akan dipangkas

“Ini setidaknya merupakan pertolongan sementara bagi industri energi dan ekonomi global,” kepala analisis Rystad Energy Per Magnus Nysveen mengatakan kepada CNBC. “Meski begitu pengurangan produksi ini lebih kecil dari yang dibutuhkan pasar dan hanya menunda masalah terkait meningkatnya pasokan, hal terburuk saat ini yang harus dihindari.”

Presiden AS Donald Trump juga mencuit bahwa ini adalah “kesepakatan yang bagus bagi semua pihak,” yang “akan menyelamatkan ratusan ribu pekerjaan sektor energi di Amerika Serikat.” Ia menambahkan bahwa industri energi kini “akan kembali bangkit.”

Tetapi beberapa investor tetap skeptis lantaran pemotongan ini datang terlambat untuk mencegah kelebihan pasokan akibat pandemi covid-19 yang terus melukai perekonomian global.

“Pemangkasan produksi mungkin sedikit membantu, tetapi situasi pasar tetap tertuju pada produsen, terutama untuk jangka pendek,” analis John Kilduff dari Again Capital’s mengatakan kepada CNBC. “Harga minyak kemungkinan akan menurun seiring meningkatnya pasokan minyak mentah global. Minyak kembali ke level $20.00 kemungkinan akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan.”

Source : investing.com