Harga emas naik pada hari Senin (23/09) dalam situasi pasca serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pekan lalu menghidupkan kembali potensi logam kuning sebagai salah satu instrumen safe haven terhadap gejolak risiko geopolitik.

Emas Berjangka untuk penyerahan Desember meningkat 0,6% ke $1.523,75 pada pukul 12:10 AM ET (04:10 GMT).

Mengutip seorang pejabat Saudi yang tak disebutkan namanya, Wall Street Journal melaporkan bahwa pemulihan penuh dari produksi minyak Arab Saudi akan memakan waktu lebih lama dari apa yang dijanjikan kerajaan sebelumnya.

Pejabat itu mencatat bahwa situasi ini tidak “sebaik yang Anda kira.”

Logam mulia turun pekan lalu lantaran trader kecewa dengan penurunan suku bunga moderat yang disampaikan oleh Federal Reserve AS. Beberapa berharap The Fed bakal melakukan pemotongan sebanyak 50 basis poin.

The Fed memiliki dua pertemuan kebijakan lagi sebelum akhir tahun 2019, yaitu pada Oktober dan Desember, tetapi tidak ada kepastian bakal menurunkan suku bunga lagi.

Sementara itu, perkembangan perdagangan AS-Cina juga diperkirakan akan menjadi penggerak arah dalam waktu dekat di mana para pejabat dari kedua belah pihak bakal bertemu lagi pada awal Oktober.

Grup media Yicai melaporkan pada hari Minggu bahwa pembicaraan perdagangan yang berlangsung minggu lalu mencapai “hasil yang baik,” terlepas dari ketidakpastian yang masih menyelimuti kesepakatan perdagangan lantaran pejabat Cina pada Jumat silam tanpa diduga membatalkan rencana kunjungan ke wilayah pertanian di Montana dan Nebraska.

Pembatalan ini memberi tekanan pada saham-saham di AS Jumat silam, sementara itu saham-saham di China merosot lebih dari 1% untuk hari ini.

Yicai mencatat dalam artikelnya bahwa kunjungan pertanian itu tidak ada hubungannya dengan perundingan perdagangan, dan AS mengatakan akan mengirim undangan kunjungan di lain waktu.

Source : investing.com