Mata uang di Asia mengalami penurunan pada Senin (24/02) pagi tatkala penyebaran cepat virus covid-19 di luar Cina memicu kekhawatiran atas pandemi dan mendorong investor berbondong-bondong beralih ke komoditas emas dan dolar untuk keamanan aset investasi.

Italia, Korea Selatan dan Iran semuanya mencatat lonjakan tajam jumlah infeksi selama akhir pekan menurut laporan Reuters Senin (24/02) pagi. Korea Selatan sekarang memiliki lebih dari 600 kasus, Italia lebih dari 150 dan Iran ada 43 kasus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pihaknya mengkhawatirkan meningkatnya jumlah kasus tanpa adanya hubungan yang jelas dengan Cina, tempat wabah virus itu diyakini telah dimulai.

Dolar Australia, sensitif terhadap perkembangan wabah karena Australia merupakan negara pengekspor utama komoditas, turun $0,66 untuk menyentuh level terendah baru 11 tahun pada awal perdagangan.

Dolar Selandia Baru mengikuti pergerakan dolar Australia. Dolar Singapura, baht Thailand, dan won Korea – semuanya peka terhadap ekonomi Cina – tertekan aksi jual terhadap greenback.

Penghindaran risiko, yang juga mendorong bursa berjangka AS jatuh serta emas dan obligasi naik, secara tidak biasa meluas ke yen Jepang.

Setelah pulih sebagian dari penurunan pekan lalu Jumat silam, yen JPY/USD diperdagangkan mendatar di 111,55 per dolar karena investor Asia mendiskon nilai keamanannya akibat paparan virus di Jepang.

Terhadap sejumlah mata uang, dolar AS kembali menuju puncak hampir tiga tahun yang dicapai minggu lalu, sebelum data ekonomi rendah memberi tekanan pada hari Jumat. Dolar AS menguat terhadap euro di $1,0837 dan pound di $1,2948.

Virus covid-19 telah menewaskan lebih dari 2.400 orang di Cina dan juga menyumbang jumlah 98% dari diagnosis global. Namun, penyebaran akhir pekan di luar Cina yakni di Italia, Korea Selatan dan Iran tampaknya telah menarik perhatian pihak otoritas kesehatan.

Yuan CNY/USD melemah 0,3% di 7,0555 per dolar pada perdagangan luar negeri.

Source : investing.com