Rupiah USD/IDR ditutup menguat melawan dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (13/05) petang. Kenaikan rupiah ini sejalan dengan tren positif pound Inggris meski pemerintahan PM Boris Johnson terus mendapatkan kritikan soal pengendalian wabah covid-19.

Menurut data Investing.com, rupiah berakhir naik 0,27% di 14.865,0 sampai pukul 14.54 WIB. Pergerakan rupiah hari ini berada di sekitar level 14.862,5 – 14.905,0.

Begitu perdagangan hari ini dibuka, rupiah menguat tipis 0,07% di Rp 14.870/US$ mengutip laporan CNBC Indonesia Rabu (13/05). Tetapi setelahnya apresiasi rupiah membesar hingga 0,37% ke Rp 14.825/US$. Sayangnya, level tersebut menjadi yang terkuat intraday, penguatan rupiah belakangan terpangkas hingga akhirnya melemah 0,07% ke Rp 14.890/US$ sebelum tengah hari.

Setelahnya rupiah bolak-balik ke zona merah dan hijau sepanjang perdagangan, sebelum akhirnya menguat berhasil menguat 0,2% ke Rp 14.850/US$. Meski penguatan tersebut tidak besar, tetapi rupiah menjadi juara alias mata uang dengan kinerja terbaik di Asia hari ini.

Mata uang utama Asia bergerak bervariasi pada perdagangan hari ini, rupee India menjadi mata uang dengan kinerja terburuk pada hari ini, setelah melemah 0,61%.

Sementara itu kabar dari luar negeri, poundsterling bergerak naik di tengah tekanan lanjutan terhadap pemerintah Inggris pasca data ekonomi hanya memberikan sedikit bantuan menurut laporan Exchange Rates UK Rabu (13/05). Sterling telah berada di bawah tekanan mayoritas bulan Mei ini di mana aksi jual meningkat signifikan pada hari Selasa kemarin. 

GBP/USD naik 0,14% di 1,2276 hingga pukul 16.19 WIB. EUR/GBP naik 0,18% di 0,8829.

Minat risiko global yang tetap stabil hari ini seharusnya telah mendukung Pound. Sterling pun mengalami aksi jual petang ini karena sentimen di Inggris yang memang memburuk.

Dalam pernyataan pada Selasa kemarin, mantan kepala Penasihat Ilmuwan Inggris Sir David King mendesak para menteri untuk mempertimbangkan kembali strategi pengendalian wabah covid-19 saat ini dengan berkomentar bahwa pesan kesehatan masyarakat agar tetap waspada merupakan ‘slogan kosong’ sementara strategi keseluruhannya digambarkan sebagai sesuatu yang berbahaya.

King dan kelompok ilmiahnya juga menyerukan kepada pemerintah untuk mengaktifkan kembali strategi pengujian, penelusuran dan isolasi sebelum 12 Maret.

Kritik tersebut memperkuat kurangnya kepercayaan pasar terhadap sikap kebijakan pemerintah Inggris.

Source : investing.com