Rupiah USD/IDR berakhir menguat terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (11/05) pagi. Penguatan mata uang garuda ini terjadi di tengah perlambatan ekonomi global baik di Eropa dan Amerika akibat dampak negatif wabah covid-19.

Rupiah ditutup naik 0,03% di 14.915,0 mengutip data Investing.com hingga pukul 11.36 WIB. Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.912 per dolar AS hingga 14.935 per dolar AS seperti dilansir Liputan6 Senin (11/05). Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 7,55 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.936 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan di akhir April yang ada di angka 15.009 per dolar AS.

Analis pun mengatakan sentimen positif kelihatannya masih akan membayangi pergerakan aset berisiko hari ini. Dengan aktifnya kembali perekonomian diharapkan kondisi ekonomi bisa segera membaik. Namun demikian, pasar masih mewaspadai perkembangan pandemi dan dampak buruknya terhadap kondisi ekonomi yang bisa kembali menekan harga aset berisiko.

Sementara di kawasan euro, ekonomi mengalami perlambatan menurut laporan Forexcrunch Minggu (10/05). PMI manufaktur di Jerman dan kawasan euro berada di level terendah tahun 30-an. Indeks PMI sektor jasa lebih seram lagi di mana indeks PMI Jerman jatuh ke 16,2, sementara indeks PMI kawasan euro turun ke 12,0 sehingga ini mengindikasikan terjadinya kontraksi tajam pada sektor jasa pada bulan April. Dampak negatif terasa di seluruh perekonomian dengan tingkat penjualan ritel kawasan euro anjlok sebesar 11,2%, sementara produksi industri Jerman jatuh 9,2 persen.

Di AS, pesanan pabrik anjlok 10,3% pada bulan Maret, setelah pembacaan datar 0,0% sebulan sebelumnya. Jumlah pekerjaan untuk bulan April mengeringkan. Klaim pengangguran mencapai 3,16 juta orang, turun dari 3,8 juta seminggu sebelumnya. Sehingga jumlah keseluruhannya mencapai 33,4 juta orang. Gaji pekerja non pertanian di AS jatuh dengan tingkat rekor sebanyak 20,5 juta orang pada April, sedikit di bawah perkiraan 22,4 juta. Tingkat pengangguran melonjak menjadi 14,7%, naik dari 4,4% sebulan sebelumnya. Namun, data ini melampaui perkiraan 16,0 persen. Ada beberapa kabar baik dari pertumbuhan upah yang melonjak 4,7% dan melewati estimasi 0,5 persen.

Angka PDB Jerman dan kawasan euro diproyeksikan akan lebih buruk lagi. Ini mencerminkan kondisi yang memburuk di kawasan euro akibat dampak wabah covid-19. Dan bisa memberi tekanan pada mata uang euro EUR/USD.

Source : investing.com