Dolar AS melemah terhadap yen euro pada Senin (23/03) seiring kembali munculnya tren penurunan baru bursa global dan kekhawatiran pengetatan likuiditas di tengah memburuknya krisis virus covid-19 yang mendorong peralihan ke aset tunai.

Menurut laporan yang dilansir Reuters Senin (23/030 pagi, dolar AS sempat naik terhadap sterling menuju tingkat terkuat setidaknya sejak tahun 1985. Mata uang AS mencapai titik tertinggi dalam hampir tiga tahun terhadap euro. Greenback juga naik menuju tingkat tertinggi 17 tahun terhadap dolar Australia dan mendekati puncak 11 tahun terhadap dolar Selandia Baru karena investor membuang aset berisiko.

Bursa saham berjangka AS dan harga minyak berada di bawah tekanan lanjutan pada awal perdagangan Asia dan kedua aset ini anjlok lebih 3%. Hal ini mendorong dolar AS beranjak lebih tinggi karena banyak negara menerapkan lockdown (penguncian) dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran virus.

Investor juga berharap bahwa pengeluaran fiskal besar dapat mengurangi kerusakan pada ekonomi global, tetapi ketidakpastian seputar penyebaran virus kemungkinan akan mendukung dolar di masa depan.

Pada pukul 10.20 WIB menurut data Investing.com, dolar AS GBP/USD melemah 0,05% di kisaran 1.1647 terhadap pound, ada di dekat level tertinggi setidaknya sejak 1985. Dolar AS EUR/USD melemah 0,22% di 1.0718 terhadap euro.

Greenback masih menguat di level tertinggi multi tahun terhadap dolar Australia di 0,5759 atau menguat 0.67% dan Selandia Baru di 0,5640 atau naik 1.20%.

Terhadap yen, USD/JPY mata uang naik ini turun 0,47% di 110,28.

Indeks dolar AS US Dollar Index Senin pagi juga melemah 0,60% di 102,20.

Source : investing.com