Minyak rebound dari kerugian sebelumnya pada penutupan Rabu (10/6). Ini terjadi di saat data Energy Information Administration (EIA) yang menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) naik ke rekor tertinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran banjir produksi karena permintaan yang lemah.

Kemarin, EIA melaporkan stok minyak mentah AS naik 5,7 juta barel dalam pekan yang berakhir 5 Juni menjadi 538,1 juta barel. Namun permintaan memang mengalami kenaikan, meskipun masih jauh di bawah level yang terjadi tahun lalu. 

Sementara itu, persediaan sulingan juga lebih tinggi, tetapi kenaikannya lebih kecil dari pada minggu-minggu sebelumnya. “Kami melihat dukungan di pasar berasal dari produk dan bukan minyak mentah,” kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates di Houston.

Mengutip Reuters, Rabu (10/6), harga minyak mentah jenis Brent kontrak pengiriman Agustus 2020 di ICE Futures naik 55 sen menjadi US$ 41,73 per barel. 

Sementara harga West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman Juli 2020 di Nymex naik 66 sen menjadi US$ 39,60 per barel. Pada sesi sebelumnya, harga WTI sudah turun 2%. 

Departemen Energi AS juga mengatakan, bahwa mereka telah membeli 126.000 barel minyak mentah untuk cadangan strategis AS. Paling tidak hal ini berhasil mendukung harga minyak sementara waktu. 

Sokongan harga juga muncul dari ekspor minyak Arab Saudi dan Rusia. Berkat penurunan harga minyak yang terjadi sebelumnya, kedua produsen minyak utama ini gencar meningkatkan ekspor. 

Alhasil, harga Brent sudah menguat lebih dari dua kali lipat sejak jatuh ke level terendah dalam 21 tahun di bawah US$ 16 pada bulan April lalu. Tetapi beberapa analis berpikir harga telah naik terlalu jauh padahal masih ada katalis dari pandemi virus corona yang akan memangkas permintaan.

“Faktor makro yang telah mendukung kompleks energi selama lebih dari sebulan dapat mereda secara signifikan karena kenaikan kuat dalam ekuitas mulai terlihat terlalu matang,” Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois, mengatakan dalam sebuah laporan.

Angin segar bagi minyak juga masih datang dari OPEC, Rusia dan lainnya, yang bergabung dalam OPEC+, yang sepakat memangkas pasokan minyak sebesar 9,7 juta barel per hari (bph), sekitar 10% dari permintaan pra-pandemi hingga Juli. 

Source : kontan.co.id