Harga Minyak Naik Terus, Ketakutan Dampak Omicron Kian Mereda

Harga minyak naik pada Kamis (09/12), memperpanjang tren kenaikan di tengah terus surutnya kekhawatiran atas dampak varian COIVD-19 omicron terhadap pemulihan ekonomi dan permintaan bahan bakar.

Harga minyak Brent makin naik 0,82% ke $76,44 per barel pukul 12.05 WIB dan harga minyak WTI naik 1,00% ke $73,08 per barel menurut data Investing.com.

Data awal menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 buatan BioNTech SE (F:22UAy)/Pfizer Inc. (NYSE:PFE) dapat melindungi dari infeksi omicron sehingga memberikan dorongan bagi pasar.

“Indikasi awal varian omicron … menunjukkan bahwa mungkin tidak terlalu parah dari yang ditakuti pada awalnya mengingat tingkat rawat inap belum melonjak,” ungkap analis komoditas Commonwealth Bank Vivek Dhar dalam catatan.

“Dosis vaksin ketiga juga menunjukkan tanda-tanda perlindungan yang menjanjikan terhadap varian baru,” tambah catatan itu.

Namun, keuntungan cairan hitam dibatasi karena beberapa pemerintah menerapkan kembali langkah-langkah pembatasan untuk menahan penyebaran omicron. Inggris memberlakukan aturan kerja dari rumah, sementara Denmark menutup restoran, bar, dan sekolah. China juga menghentikan perjalanan wisata kelompok dari Guangdong.

“Risiko terhadap permintaan belum sepenuhnya berkurang,” kata analis ANZ dalam catatan, dengan penemuan omicron memicu penurunan sebesar 16% untuk Brent berjangka dari 25 November hingga 1 Desember. Meskipun lebih dari setengah dari kerugian ini pulih selama seminggu ini, beberapa investor mengingatkan bahwa pemulihan lebih lanjut dapat dibatasi sampai dampak omicron pada permintaan bahan bakar menjadi lebih jelas.

Brent berjangka kemungkinan akan menghadapi resisten di sekitar batas bawah kisaran $76,50-$77,50, level support utama pada akhir September dan akhir November 2021, menurut analis OANDA Craig Erlam.

Sementara itu, data pasokan minyak mentah dari Badan Informasi Energi AS hari Rabu menunjukkan penurunan sebanyak 240.000 barel untuk pekan terakhir 3 Desember. Perkiraan yang disiapkan oleh Investing.com telah memperkirakan penurunan 1,705 juta barel, sementara penurunan 910.000 barel dilaporkan selama minggu sebelumnya.

Data pasokan minyak mentah dari American Petroleum Institute yang dirilis sehari sebelumnya, menunjukkan penurunan sebesar 3,809 juta barel.

Source : id.investing.com