
Dolar Amerika Serikat menguat pada Jumat (08/07) petang di tengah kembali meningkatnya kegelisahan atas pemulihan ekonomi global dari COVID-19. Mata uang safe-haven seperti yen Jepang dan franc Swiss juga naik, sementara mata uang berisiko seperti dolar Australia dan Selandia Baru tetap mendekati posisi terendah multi bulan.
Indeks dolar AS naik tipis 0,08% di 92,483 pukul 13.07 WIB menurut data Investing.com.
Pasangan USD/JPY terus naik 0,21% di 110,03. Namun, Jepang telah mengumumkan status keadaan darurat baru di Tokyo, tiga minggu sebelum Olimpiade dibuka di kota itu, seiring terus meningkatnya jumlah kasus COVID-19.
Di Indonesia, rupiah masih bergerak turun 0,19% di 14.547,5 per dolar AS hingga pukul 13.04 WIB.
Pasangan AUD/USD turun tipis 0,05% di 0,7426 pukul 13.09 WIB. Kebijakan penguncian saat ini di Sydney dapat diperpanjang karena kota itu tengah berusaha untuk mengendalikan wabah terbarunya.
Di seberang Laut Tasman, pasangan NZD/USD turun 0,14% di 0,6944.
Pasangan USD/CNY turun tipis 0,04% ke 6,4875. Data China dirilis sebelumnya menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) tumbuh lebih kecil dari perkiraan 1,1% tahun ke tahun di Juni dan berkontraksi 0,4% lebih besar dari perkiraan bulan ke bulan. Sementara itu, indeks harga produsen (PPI) tumbuh sebesar 8,8% YoY.
Pasangan GBP/USD turun tipis 0,08% di 1,3775 pukul 13.14 WIB.
Franc Swiss mempertahankan kenaikannya dari sesi sebelumnya, ketika melonjak lebih dari 1%, pada hari Jumat.
Obligasi menguat dan saham-saham global melemah di tengah kekhawatiran wabah yang melibatkan varian Delta dari COVID-19 dapat menghambat pemulihan ekonomi. Imbal hasil acuan obligasi AS turun ke level terendah hampir lima bulan di 1,25% selama sesi sebelumnya, dari level tertinggi 1,5440% yang dicapai dua minggu lalu.
Hal ini pada gilirannya telah memberikan tekanan pada greenback.
“Pasti ada angin perubahan di pasar,” pasalnya kekhawatiran mengenai inflasi sekarang beralih ke kegelisahan seputar pertumbuhan, ahli strategi Nasional Bank of Australia (OTC:NABZY) Rodrigo Catril menjelaskan dalam catatan.
“Belum ada katalis tunggal yang memicu perubahan sentimen, sebaliknya tampaknya ini akumulasi peristiwa,” termasuk penyebaran cepat varian Delta dan kekhawatiran bahwa bank sentral dapat memulai pengurangan aset lebih awal dari yang diharapkan dan menunda pemulihan ekonomi dari COVID-19, tambah catatan itu.
Data yang dirilis pada hari Kamis juga mengungkapkan 373.000 klaim pengangguran awal diajukan di AS selama seminggu terakhir. Angka yang lebih tinggi dari perkiraan adalah indikasi lain bahwa pemulihan pasar tenaga kerja dari COVID-19 tetap tidak merata.
Source : id.investing.com